Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 77 - Surat Yāsīn (Yasin)
يٰسۤ
Ayat 77 / 83 •  Surat 36 / 114 •  Halaman 445 •  Quarter Hizb 45.25 •  Juz 23 •  Manzil 5 • Makkiyah

اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa'iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).

Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani? Kemudian tiba-tiba saja dia menjadi musuh yang nyata.

Makna Surat Yasin Ayat 77
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Beralih dari uraian tentang pendustaan kaum kafir kepada Nabi Muhammad, Allah melalui ayat ini menjelaskan keniscayaan hari kebangkitan. Ayat ini turun untuk menjawab kelancangan al-‘As bin Wa’il yang menantang Rasulullah untuk membuktikan kemampuan Allah membangkitkan kembali tulang lapuk yang dibawanya. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, kemudian setelah melalui berbagai proses ia lahir ke dunia dan tumbuh menjadi manusia sempurna, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Mereka berubah menjadi musuh dengan mengingkari hari kebangkitan. Sungguh, sikap ini tidak sejalan dengan akal sehat.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Karena adanya sebagian manusia tidak percaya tentang adanya hari Kebangkitan, maka Pada ayat ini Allah mengingatkan mereka kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan manusia, sebagai bagian dari seluruh makhluk-Nya. Ini dikemukakan dengan nada keheranan atas sikap sebagian manusia itu. Yaitu: apakah manusia itu tidak memikirkan dan tidak memperhatikan bahwa Allah telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian setelah melalui proses, ia lahir ke dunia dalam bentuk manusia sempurna, kemudian ia menjadi orang yang bersikap memusuhi Allah dan rasul-Nya. Sikap semacam ini benar-benar tidak dapat diterima oleh pikiran yang sehat.

Apabila manusia menyadari bahwa Allah kuasa menciptakannya, bahkan dari setetes air mani, kemudian menjadikan makhluk yang paling baik di bumi ini, pastilah ia yakin, bahwa Allah kuasa pula mengembalikannya kepada asal kejadiannya itu, dan Ia kuasa pula untuk mengulangi kembali penciptaan-Nya, yakni membangkitkannya seperti kehidupannya semula. Oleh karena itu, manusia tidak boleh bersikap melawan perintah Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Khaṣīm Mubīn خَصِيْمٌ مُبِيْنٌ (Yāsīn/36: 77)

Khaṣīm mubīn artinya: penentang atau musuh yang jelas. Berasal dari fi‘il khaṣima - yakhṣumu - khaṣman artinya: menentang, melawan, memusuhi, dan mau mengalahkan. Pada ayat 77 ini, Allah mengingatkan kita semua manusia dengan kalimat pernyataan yang bergaya satire atau ejekan, yaitu apakah manusia tidak memperhatikan kenyataan bahwa Allah telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian ternyata “fa’iżā huwa khaṣīm(un) mubīn(un)”, artinya ia kemudian menjadi penentang yang terang-terangan. Manusia banyak yang tidak beriman kepada Allah, tidak mengakui kekuasaan-Nya, tidak tunduk pada aturan dan ketentuan-Nya, bahkan tidak taat pada perintah dan larangan-Nya. Memang manusia yang diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling baik bentuknya dan paling berkuasa di muka bumi, kemudian banyak yang lupa pada penciptanya dan bahkan melawan kehendak-Nya. Menentang pencipta, pemelihara, dan pengatur alam ini tentu berakibat kerugian yang sangat besar, padahal Allah telah menunjukkan jalan yang baik dan benar supaya manusia selamat di dunia maupun akhirat.

2. Malakūt مَلَكُوْتُ (Yāsīn/36: 83)

Malakūt artinya kekuasaan, kemuliaan, kerajaan besar. Berasal dari fi‘il malaka – yamliku – malakan - wamalakatan artinya: memiliki, menguasai, memerintah. Pada ayat terakhir Surah Yāsīn ini Allah menegaskan dengan firman-Nya, “biyadihī malakūtu kulli syai'in wa ilaihi turja‘ūn,” artinya: hanya di tangan-Nya kekuasaan dan kemuliaan atas segala sesuatu dan hanya kepada-Nyalah kamu semua akan dikembalikan. Maksudnya hanya Allah pencipta, pemelihara, dan pengatur alam raya ini, dan juga hanya kepada Allah kita dan semua makhluk akan dikembalikan. Jadi tidak benar jika ada pembagian tugas seperti adanya penguasa yang mencipta alam ini, kemudian ada penguasa lain yang memelihara dan mengaturnya, serta ada penguasa yang lain lagi yang akan menghancurkannya. Allah adalah Maha Esa dan Mahakuasa, di tangan Allahlah semua kekuasaan dan kerajaan besar ini, dan tidak ada sekutu bagi Allah, Mahasuci Allah dari segala kekurangan dan kelemahan seperti yang disifatkan oleh orang-orang kafir dan musyrik.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto