ۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ
Allażī ja‘ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nārā(n), fa'iżā antum minhu tūqidūn(a).
(Dialah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Kemudian, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.”
Tuhan yang akan menghidupkan kembali tulang belulang yang telah lapuk tersebut yaitu Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang semula berupa pohon yang basah dan hijau. Begitu kayu itu kering, maka seketika itu kamu nyalakan api dari kayu itu dan dapat meng-ambil manfaat dari api itu.”
Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah juga memerintahkan rasul-Nya untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut bahwa yang akan menghidupkan kembali tulang-tulang lapuk tersebut adalah Allah yang telah menciptakan untuk mereka, api yang menyala dari kayu yang semula merupakan pohon yang basah dan hijau tetapi kemudian kayu itu menjadi kering sehingga dapat menyalakan api. Dalam kehidupan sehari-hari, orang Arab telah mengetahui bahwa ada beberapa jenis kayu yang jika digesekkan antara satu dengan lainnya akan memercikkan api. Ini semua diciptakan Allah untuk manusia agar mereka bisa menghangatkan badan, memasak, menggunakannya untuk penerangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Pemberian contoh ini merupakan hal yang cukup jelas bagi mereka yang sehari-hari menggunakan kayu api. Mereka mengira bahwa tulang-tulang yang sudah lapuk itu telah menjadi dingin dan kering tidak dapat lagi menerima kehidupan, sebab kehidupan ini memerlukan adanya panas. Padahal sehari-hari mereka menyaksikan bahwa kayu yang sudah lapuk dan dingin dapat menimbulkan panas dan menghidupkan api. Bahkan kayu yang masih basah dan berdaun ada juga yang dapat menyalakan api.
Menurut kajian ilmiah, api di sini dapat saja diinterpretasikan sebagai energi. Di dalam tumbuhan memang terjadi proses pemanfaatan energi matahari untuk mengubah bahan yang diambil tumbuhan menjadi energi kimiawi. Penjelasan mengenai terjadinya perubahan energi tersebut, yang disebut sebagai proses fotosintesa adalah sebagai berikut.
Dari banyak bagian tumbuhan, salah satu yang terpenting adalah adanya kloroplas (chloroplast) yang terdapat pada daun. Pada kloroplas ini terdapat ribuan kloropil (chlorophyl) atau butir hijau daun, dan dalam bahasa Al-Qur’an dikenal dengan nama al-khadir (bahan hijau). Kedua ayat di atas menyinggung keberadaan kloropil yang berwarna hijau (al-An‘ām/6: 99) dan peranan matahari dalam menjalankan “pabrik hijau” ini (at-Takwīr/81: 17-18).
Sel tumbuhan, tidak sebagaimana sel manusia atau binatang, dapat menggunakan secara langsung energi matahari. Tumbuhan akan mengubah energi matahari menjadi energi kimia, dan menyimpannya dalam bentuk nutrien dengan cara yang khusus. Proses ini dinamakan fotosintesis (Photosynthesis). Sel berwarna hijau ini hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Ini adalah satu-satunya laboratorium di dunia yang dapat menyimpan energi matahari dalam bentuk bahan organik.
Sebagaimana diuraikan di atas, maka tumbuhan adalah makhluk yang sangat dan paling penting untuk kelangsungan kehidupan makhluk lainnya. Di samping menghasilkan bahan makanan, proses fotosintesa yang dilaku-kan tumbuhan juga menghasilkan oksigen. Oksigen adalah bahan untuk bernapas bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia dan binatang.
Dengan demikian tepatlah Allah memberikan contoh, bahkan bukan hanya kayu yang kering saja dapat menyalakan api tetapi kayu yang masih hijau dan basah pun dapat juga dijadikan kayu api. Sebaliknya, tulang-tulang yang dapat menerima kehidupan bukan hanya tulang-tulang yang segar, tetapi tulang yang sudah lapuk pun dapat pula menerima kehidupan dengan kekuasaan Allah.
1. Khaṣīm Mubīn خَصِيْمٌ مُبِيْنٌ (Yāsīn/36: 77)
Khaṣīm mubīn artinya: penentang atau musuh yang jelas. Berasal dari fi‘il khaṣima - yakhṣumu - khaṣman artinya: menentang, melawan, memusuhi, dan mau mengalahkan. Pada ayat 77 ini, Allah mengingatkan kita semua manusia dengan kalimat pernyataan yang bergaya satire atau ejekan, yaitu apakah manusia tidak memperhatikan kenyataan bahwa Allah telah menciptakannya dari setetes air mani, tetapi kemudian ternyata “fa’iżā huwa khaṣīm(un) mubīn(un)”, artinya ia kemudian menjadi penentang yang terang-terangan. Manusia banyak yang tidak beriman kepada Allah, tidak mengakui kekuasaan-Nya, tidak tunduk pada aturan dan ketentuan-Nya, bahkan tidak taat pada perintah dan larangan-Nya. Memang manusia yang diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling baik bentuknya dan paling berkuasa di muka bumi, kemudian banyak yang lupa pada penciptanya dan bahkan melawan kehendak-Nya. Menentang pencipta, pemelihara, dan pengatur alam ini tentu berakibat kerugian yang sangat besar, padahal Allah telah menunjukkan jalan yang baik dan benar supaya manusia selamat di dunia maupun akhirat.
2. Malakūt مَلَكُوْتُ (Yāsīn/36: 83)
Malakūt artinya kekuasaan, kemuliaan, kerajaan besar. Berasal dari fi‘il malaka – yamliku – malakan - wamalakatan artinya: memiliki, menguasai, memerintah. Pada ayat terakhir Surah Yāsīn ini Allah menegaskan dengan firman-Nya, “biyadihī malakūtu kulli syai'in wa ilaihi turja‘ūn,” artinya: hanya di tangan-Nya kekuasaan dan kemuliaan atas segala sesuatu dan hanya kepada-Nyalah kamu semua akan dikembalikan. Maksudnya hanya Allah pencipta, pemelihara, dan pengatur alam raya ini, dan juga hanya kepada Allah kita dan semua makhluk akan dikembalikan. Jadi tidak benar jika ada pembagian tugas seperti adanya penguasa yang mencipta alam ini, kemudian ada penguasa lain yang memelihara dan mengaturnya, serta ada penguasa yang lain lagi yang akan menghancurkannya. Allah adalah Maha Esa dan Mahakuasa, di tangan Allahlah semua kekuasaan dan kerajaan besar ini, dan tidak ada sekutu bagi Allah, Mahasuci Allah dari segala kekurangan dan kelemahan seperti yang disifatkan oleh orang-orang kafir dan musyrik.

