وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ
Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya'kulūn(a).
Kami menjadikannya (hewan-hewan itu) tunduk kepada mereka. Sebagian di antaranya menjadi tunggangan mereka dan sebagian (lagi) mereka makan.
Dan tidak hanya menciptakan hewan-hewan itu, Kami pun menundukkannya untuk mereka, lalu sebagiannya mereka manfaatkan untuk menjadi tunggangan dan alat angkut mereka serta barang-barang mereka, dan sebagian dari hewan-hewan itu Kami ciptakan untuk mereka makan dagingnya.
Allah memperingatkan kembali kepada kaum kafir tentang sifat dan rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka yang sepatutnya disyukuri. Rahmat yang dikaruniakan itu lalu mereka kuasai dan ambil manfaatnya sedemikian rupa. Akan tetapi, mereka tidak pernah bersyukur, bahkan mengingkari rahmat tersebut.
Di antara rahmat dan karunia Allah adalah bermacam-macam hewan dan binatang ternak yang telah diciptakan dan disediakan-Nya untuk manusia. Sebagian dari hewan tersebut mereka jadikan kendaraan untuk mengangkut mereka dan barang-barang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Dari hewan itu pula mereka memperoleh bahan makanan, minuman, pakaian, dan alat-alat keperluan lainnya. Namun demikian, mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan dan menyediakan semuanya itu untuk kepentingan mereka.
Asy-Syi‘r الشِّعْرُ (Yāsīn/36: 69)
Asy-Syi‘r artinya juga syiir, tetapi dalam bahasa Indonesia sering disebut syair yaitu sastra dalam bentuk puisi dengan jumlah suku kata yang teratur dan pada setiap barisnya memiliki persamaan bunyi atau bersajak. Pada ayat 69 ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah kumpulan syair sebagaimana orang-orang kafir Mekah menduga, dan tidak layak Allah mengajarkan syair kepada Nabi Muhammad saw. Memang ada banyak ayat yang bersajak atau berakhiran bunyi yang sama terutama pada surah-surah Makkiyyah, seperti Surah an-Nās, al-Falaq, al-Ikhlāṣ, al-Lahab, dan lain-lain. Tetapi Al-Qur’an bukan sekedar buku sastra melainkan kitab petunjuk dan pelajaran. Syair biasanya berisi khayalan, lamunan, ataupun impian seseorang, sedangkan Al-Qur’an menerangkan berbagai fakta dan peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi secara benar dan tepat, jadi jauh dari khayalan, lamunan, ataupun impian. Maka tidak pantas jika Allah mengajarkan kepada Nabi-Nya hal-hal yang bersifat khayalan dan lamunan.

