وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ
Wa khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabūn(a).
(Begitu juga) Kami menciptakan untuk mereka dari jenis itu angkutan (lain) yang mereka kendarai.642)
Dan selain itu Kami ciptakan juga untuk mereka angkutan lainnya, seperti apa yang mereka kendarai di darat berupa hewan-hewan tunggangan dan alat-alat angkut pada umumnya (Lihat Surah an-Nahl/16: 8).
Pada ayat ini, Allah mengingatkan manusia kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain. Allah memberikan kepada manusia bermacam-macam kendaraan selain perahu, bahtera dan kapal, yaitu hewan-hewan yang dapat dijadikan kendaraan atau alat angkutan misalnya: kuda, keledai, unta, gajah dan sebagainya. Ini merupakan alat angkutan darat bagi manusia.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَ ا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٨
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Naḥl/16: 8)
Untuk memungkinkan pengangkutan orang dan barang-barang yang lebih banyak, manusia dapat membuat alat-alat angkutan darat yang ditarik oleh hewan-hewan tersebut, seperti dokar, pedati, gerobak, dan sebagainya. Dengan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah kepadanya, manusia dapat pula membuat alat angkutan yang bergerak dengan tenaga mesin yang memakai bahan bakar berupa minyak bumi atau batu bara, yang juga disediakan dan dikaruniakan Allah kepada manusia. Kendaraan bermesin ini dapat berjalan lebih cepat dan bermuatan lebih banyak.
Berkat kemajuan akal (nalar) dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, mereka dapat membuat kendaraan-kendaraan yang dapat terbang di udara, mulai dari balon, pesawat terbang, hingga roket-roket yang menggerakkan kapal-kapal ruang angkasa yang kecepatannya dapat melebihi kecepatan suara. Itu semua merupakan nikmat dari Allah kepada manusia. Dengan menyiasati hukum gravitasi, manusia berhasil menciptakan pesawat terbang untuk kepentingan transportasi manusia.
al-Fulk al-Masyḥūn الْفُلْك الْمَشْحُوْن (Yāsīn/36: 41)
Ungkapan tersebut terdiri dari dua kata: al-fulk yang artinya kapal (safīnah) dan al-masyḥūn yang artinya penuh muatan (al-mamlū’). Jadi, al-fulk al-masyḥūn artinya “kapal atau perahu yang penuh muatan.” Berdasarkan catatan Ibnu al-Jauzī, dengan berpegang pada pandangan para ahli tafsir, yang dimaksud dengan “perahu/kapal yang penuh muatan” dalam ayat ini adalah perahu Nabi Nuh yang sarat dengan penumpang yang diselamatkan Allah dari bencana banjir dahsyat. Mereka antara lain adalah orang-orang yang beriman dan putra-putra Nabi Nuh yang melanjutkan keturunan manusia di waktu-waktu selanjutnya. Peristiwa penyelamatan dan diangkutnya mereka ke dalam kapal/perahu yang sarat muatan itu diingatkan kembali oleh Allah sebagai tanda kebesaran kekuasaan-Nya kepada manusia, agar mereka beriman.

