فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ ࣖ
Falā yastaṭī‘ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn(a).
Oleh sebab itu, mereka tidak dapat berwasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarganya.
Tiupan sangkakala yang pertama itu terjadi dengan cepat dan tiba-tiba sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat atau pesan kepada keluarganya dan mereka juga tidak dapat kembali berkumpul kepada keluarganya lagi.
Demikian cepat datangnya peristiwa itu, dan amat tiba-tiba, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk berwasiat atau meninggalkan pesan kepada keluarganya, dan tidak pula dapat kembali berkumpul dengan mereka. Masing-masing menghadapi persoalannya sendiri, menunggu keputusan dari pengadilan Tuhan Yang Mahaadil dan Mahakuasa.
Marqadinā مَرْقَدِنَا (Yāsīn/36: 52)
Marqadinā artinya tempat tidur kami. Berasal dari fi‘il raqada-yarqudu-ruqūdan artinya tidur atau berbaring. Marqad adalah isim makan (kata benda yang menunjukkan tempat terjadi atau berlakunya perbuatan tersebut), kemudian diberi ḍamīr (kata ganti) orang pertama jamak yang menunjukkan kepunyaan, menjadi marqadinā artinya tempat tidur atau tempat berbaring kami. Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk ungkapan kehidupan alam kubur dalam rangka menjelaskan bahwa kehidupan di alam kubur laksana tidur, begitu cepat hal itu berlalu. Pada ayat 52 digambarkan sikap terkejut orang-orang kafir yang tidak percaya pada hari akhir dan hari kebangkitan, yaitu ketika ditiup sangkakala kedua yang membangunkan semua manusia dari kubur masing-masing, maka orang-orang kafir dengan sangat terkejut dan masih tidak percaya berkata, “Aduh celaka kami, siapa yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Padahal sebetulnya peristiwa inilah yang dijanjikan Allah yang Maha Pengasih sebagaimana telah diberitakan oleh para rasul, dan benarlah para rasul yang telah diutus Allah itu, tetapi dulu mereka tidak mau percaya. Kini mereka baru sadar tetapi sudah terlambat.












































