وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ
Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa'iżā hum muẓlimūn(a).
Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.
Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah datangnya waktu malam. Ketika malam tiba, Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan malam.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan bukti yang lain tentang kekuasaan-Nya Yang Mahabesar dan bukti adanya hari kebangkitan, yaitu adanya waktu malam. Allah menanggalkan siang dan mendatangkan malam, tiba-tiba manusia berada dalam kegelapan.
Ayat ini meletakkan dasar-dasar bagi ilmu pengetahuan alam dan ilmu falak. Terjadinya siang dan malam karena bergeraknya tata surya, terutama bumi dan matahari, sehingga bagian muka bumi yang terkena cahaya matahari mengalami siang, dan bagian yang tidak terkena cahaya matahari mengalami malam. Hal ini terjadi silih berganti.
Kemajuan ilmu pengetahuan manusia mengenai ilmu falak atau astronomi pada masa sekarang ini telah memungkinkan mereka mengetahui benda-benda di angkasa raya. Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya dapat pula mengarungi ruang angkasa, tidak hanya sekadar mengamatinya dari bumi.
Adanya siang dan malam juga berfaedah bagi manusia. Waktu siang mereka gunakan untuk bekerja bagi keperluan hidup mereka. Sedang waktu malam pada umumnya digunakan untuk beristirahat dan tidur, sebagai salah satu dari kebutuhan jasmaniah dan rohaniah mereka.
1. Tajrī تَجْرِي (Yāsīn/36: 38)
Kata tajrī merupakan fi‘il muḍāri‘ (kata kerja berkelanjutan) dari kata jarā-yajrī-jaryan-jiryān( an), yang artinya “pergi”, “berjalan”, “beredar”, atau “mengalir”. Karena subjeknya di sini adalah matahari, maka maknanya yang tepat adalah “beredar”, dalam arti bahwa matahari itu beredar/bergerak menuju tempat pemberhentiannya. Matahari yang merupakan sebuah bintang yang besar yang bertetangga dengan planet bumi sebenarnya tidaklah berdiam saja di suatu tempat melainkan bergerak dan beredar pada garis edarnya, dan terus beredar sepanjang masa sampai hari Kiamat. Menurut Ibnu Jauzī, matahari itu beredar selamanya, dan tidak menetap pada suatu tempat (annahā tajrī abadan la taṡbutu fi makān(in) wāhid).
2. Al-‘Urjūn الْعُرْجُوْن (Yāsīn/36: 39)
Kata al-‘urjūn disebut hanya sekali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam ayat ini. Ia ber-wazan fu‘lūn, diduga berasal dari kata al-in‘irāj, yang artinya “menjadi bengkok.” Menurut para mufasir, tempat beredar bulan selama satu bulan berjumlah 28 (dua puluh delapan) manāzil, yang dilaluinya sejak awal bulan sampai akhirnya. Apabila rembulan memasuki garis edarnya pada akhir-akhir peredarannya, maka ia tampak seperti sesuatu yang bengkok, mirip seperti pada saat ia memasuki awal-awal peredarannya pada awal bulan. Secara tradisional, kata ka al-‘urjūn al-qadīm diartikan “seperti tandan kering yang tua”.
3. Yasbaḥūn يَسْبَحُوْنَ (Yāsīn/36: 40)
Kata yasbaḥūn yang berhubungan dengan penggambaran fenomena alam, disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, dalam Surah al-Anbiyā' ayat 33 dan dalam ayat Surah Yāsīn ini. Kata ini dari sabaḥa-yasbaḥu-sibaḥat an yang secara harfiah artinya mengapung atau berenang. Seperti halnya orang yang berenang dalam keadaan mengapung di atas air, demikian pula benda-benda alam di langit juga berenang mengapung ditopang secara kokoh oleh sesuatu yang ada di sekelilingnya. Mengapungnya benda-benda alam di langit pada orbitnya masing-masing adalah pernyataan di luar ilmu pengetahuan orang Arab lima belas abad yang lampau. Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk bagi hati dan rohani manusia, tetapi ia juga banyak membuka rahasia kebenaran ilmu pengetahuan yang belum diketahui oleh manusia pada waktu Al-Qur’an diturunkan.

