اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ
Al-lażīna āmanū wa kānū yattaqūn(a).
(Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
Wali-wali Allah yang disebut pada ayat sebelumnya, yaitu orang-orang yang beriman tanpa ada sedikit pun keraguan dan senantiasa bertakwa, yakni selalu mengerjakan amal saleh sehingga mereka terhindar dari azab Allah.
Allah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu dan apa sebabnya mereka demikian. Penjelasan yang didapat dalam ayat ini menunjukkan bahwa wali itu ialah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, segala kejadian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertakwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, ataupun hukum syara’ yang mengatur tata hidup manusia di dunia (lihat tafsir Surah al-Anfāl/8: 10).
al-’Izzah العزّة (Yūnus/10: 65)
Al-’Izzah masdar dari ‘azza-ya’izzu merujuk pada dua arti: pertama, kata kekuatan, kekuasaan dan kehebatan pada seseorang sehingga tidak bisa dikalahkan. Kedua, sedikit, sesuatu yang karena sedikitnya menjadi mulia. Oleh sebab itu, kata al-’azīz bisa berarti perkasa atau mulia. Al-’Izzah digunakan dalam Al-Qur’an dalam memuji Allah, rasul, dan orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman-Nya pada Surah al-Munāfiqūn/63: 8, وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِ ينَ. Dalam Al-Qur’an ada kata al-’izzah yang dipinjam untuk menunjukkan kesombongan orang-orang kafir seperti pada firman Allah pada Surah al-Baqarah/2: 206 أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ Kata al-’izzah terulang sebanyak 10 kali diantaranya pada Surah an-Nisā’/4: 139



































