وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚفَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ
Wa lā tad‘u min dūnillāhi mā lā yanfa‘uka wa lā yaḍurruk(a), fa in fa‘alta fa innaka iżam minaẓ-ẓālimīn(a).
Janganlah engkau sembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu, sebab jika engkau lakukan (yang demikian itu), sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”
Dan jangan engkau menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi manfaat kepadamu walau kamu menyembahnya dan tidak pula memberi bencana kepadamu jika kamu tidak menyembahnya, sebab jika engkau lakukan itu, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.”
Allah menjelaskan larangan-Nya kepada Nabi saw agar jangan berdoa dan beribadah kepada selain Allah, selain Allah, tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mudarat, atau memberi kesenangan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat. Sekiranya Rasul berbuat demikian, maka dia termasuk dalam orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Tiada kedurhakaan yang lebih besar dari syirik karena orang yang berbuat syirik mengembalikan urusan yang dihadapi manusia kepada selain Allah. Maka kembalilah kepada Allah. Panjatkanlah doa kepada Allah semata karena doa termasuk ibadah yang besar, bahkan otak ibadah.
Ḍall ضَلّ (Yūnus/10: 108)
Arti dasarnya adalah hilang, terbenam, dan lain-lain. Dalam satu hadis disebutkan bahwa “al-hikmah ḍallatul mu’min” (ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin). Orang yang tersesat jalan berarti telah kehilangan arah yang benar atau tidak berada di jalan yang benar, sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja. Itu karena “jalan yang benar” itu diperoleh dengan usaha dan karena itu sulit diperoleh, tetapi mereka tidak cukup berusaha. Dalam Al-Qur’an “sesat” umumnya dinisbahkan kepada orang kafir. “Sesat” itu dua aspek pertama, “sesat” dalam hal pengetahuan spekulatif, seperti tidak mengenal Tuhan, misalnya, al-Nisā’/4: 136, “Siapa yang mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulnya, dan Hari Kemudian, maka ia benar-benar sesat.” Dan kedua, “sesat” yang berkenaan dengan pengetahuan praktis, seperti buta hukum-hukum agama.
Dalam Al-Qur’an, aḍ-ḍall dalam pengertian leksikalnya dinisbahkan pula kepada nabi-nabi. Misalnya kepada Nabi Muhammad, sebelum beliau jadi nabi, dalam arti “bingung belum memperoleh kenabian” (al-Ḍuḥa/93: 7), dan kepada Nabi Ya’kub yang diucapkan oleh anak-anaknya karena ia selalu saja teringat Yusuf (Yūsuf/12: 95). Lawan kata ḍall adalah hidāyah (menemukan kebenaran).








































