وَاَنْ اَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۚ وَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Wa an aqim wajhaka lid-dīni ḥanīfā(n), wa lā takūnanna minal-musyrikīn(a).
(Aku juga diperintah dengan firman-Nya), “Hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dengan lurus dan janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang musyrik.
dan aku telah diperintah dengan firman-Nya: “Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus tanpa keraguan sedikit pun, dan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun, dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Muhammad saw diperintahkan agar menghadapkan wajahnya dan seluruh dirinya kepada Allah, memfokuskan perhatian pada tugas-tugas agama dan mengabdi kepada Tuhan semesta alam. Sebab jika dia memberikan perhatian kepada selain Allah, maka hal itu mengurangi kebulatan jiwanya dalam menghadap Tuhan dan pengabdian terhadap agamanya. Kepada Allah sajalah hendaknya tujuan segala pengabdiannya lahir dan batin. Janganlah dia termasuk orang yang mempersekutukan Allah dalam ibadah dengan dewa-dewa, jin-jin, roh-roh, atau patung-patung seperti halnya penyembah-penyembah berhala. Larangan Allah terhadap Rasul ini dimaksudkan untuk mendorong dan merangsang Rasul saw untuk tetap menjauhi sifat-sifat syirik.
Ḍall ضَلّ (Yūnus/10: 108)
Arti dasarnya adalah hilang, terbenam, dan lain-lain. Dalam satu hadis disebutkan bahwa “al-hikmah ḍallatul mu’min” (ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin). Orang yang tersesat jalan berarti telah kehilangan arah yang benar atau tidak berada di jalan yang benar, sedikit atau banyak, sengaja atau tidak sengaja. Itu karena “jalan yang benar” itu diperoleh dengan usaha dan karena itu sulit diperoleh, tetapi mereka tidak cukup berusaha. Dalam Al-Qur’an “sesat” umumnya dinisbahkan kepada orang kafir. “Sesat” itu dua aspek pertama, “sesat” dalam hal pengetahuan spekulatif, seperti tidak mengenal Tuhan, misalnya, al-Nisā’/4: 136, “Siapa yang mengingkari Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulnya, dan Hari Kemudian, maka ia benar-benar sesat.” Dan kedua, “sesat” yang berkenaan dengan pengetahuan praktis, seperti buta hukum-hukum agama.
Dalam Al-Qur’an, aḍ-ḍall dalam pengertian leksikalnya dinisbahkan pula kepada nabi-nabi. Misalnya kepada Nabi Muhammad, sebelum beliau jadi nabi, dalam arti “bingung belum memperoleh kenabian” (al-Ḍuḥa/93: 7), dan kepada Nabi Ya’kub yang diucapkan oleh anak-anaknya karena ia selalu saja teringat Yusuf (Yūsuf/12: 95). Lawan kata ḍall adalah hidāyah (menemukan kebenaran).





































