قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا وَتَكُوْنَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاۤءُ فِى الْاَرْضِۗ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِيْنَ
Qālū aji'tanā litalfitanā ‘ammā wajadnā ‘alaihi ābā'anā wa takūna lakumal-kibriyā'u fil-arḍ(i), wa mā naḥnu lakumā bimu'minīn(a).
Mereka berkata, “Apakah engkau (Musa) datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (menyembah berhala), dan agar kamu berdua (Musa dan Harun) mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan beriman kepada kamu berdua.”
Setelah Fir'aun dan kaumnya mendengar jawaban Nabi Musa, lalu mereka berkata, “Apakah engkau, wahai Musa, datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, yakni menyembah berhala, dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi, yakni di negeri Mesir? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
Dalam ayat ini Allah menjelaskan sikap para pemuka bangsa Qibty, setelah mereka gagal mengemukakan bantahan yang kuat untuk mematahkan kebenaran Nabi Musa a.s., maka mereka mencari-cari alasan untuk membela dan mempertahankan tradisi atau adat istiadat mereka. Mereka menuduh bahwa kedatangan Musa kepada mereka ialah untuk memaksa mereka meninggalkan kebiasaan dan adat istiadat yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, kemudian sesudah itu memaksa mereka mengikuti agama Nabi Musa. Menurut mereka, usaha Nabi Musa demikian itu bertujuan untuk menjadi pemimpin agama dan negara di Mesir bersama saudaranya Harun. Anggapan buruk mereka terhadap kedatangan Musa dan tujuannya membuat mereka bertekad untuk tidak beriman kepada ajaran yang dibawanya serta tidak menjadi pengikutnya.
al-Kibriyā’ الْكِبْرِيَاء (Yūnus/10: 78)
Al-Kibriyā’ berasal dari masdar al-kibr wal kabīr merujuk pada arti besar (untuk benda) banyak (untuk jumlah bilangan), tua (untuk usia), dosa besar seperti firman Allah pada Surah Al-Isrā’/17: 31. Bisa pula berarti sesuatu yang sulit seperti pada firman Allah di Surah Al-Baqarah/2: 45. Kata al-kibr wa at-takābur dan istikbār artinya hampir berdekatan yaitu merasa diri besar, lebih dari orang lain. Sedangkan al-kibriyā adalah mengangkat kepala karena sombong merasa diri besar dan menolak untuk patuh. Kata al-kibriyā’ terdapat pada ayat ini dan pada Surah al-Jāṡiyah/45: 37.















































