اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
Ammā manistagnā.
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup dengan apa yang dia punya, seperti kedudukan, status sosial, dan kekayaan; sehingga dia enggan beriman kepada Allah dan mengikuti ajaranmu,
Dalam ayat-ayat ini, Allah melanjutkan teguran-Nya, “Adapun orang-orang kafir Mekah yang merasa dirinya serba cukup dan mampu, mereka tidak tertarik untuk beriman padamu, mengapa engkau bersikap terlalu condong pada mereka dan ingin sekali supaya mereka masuk Islam.”
‘Abasa عَبَسَ (‘Abasa/80: 1)
Kata ‘abasa adalah fi‘il maḍī yaitu ‘abasa-ya‘bisu-‘absan wa ‘abūsan artinya memberengut, bermuka masam. Ayat 1 ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad bermuka masam dan memalingkan muka ke arah lain dari orang yang bertanya kepada beliau. Orang yang bertanya itu adalah ‘Abdullāh bin Ummi Maktūm, seorang buta yang ingin menanyakan sesuatu kepada Nabi. Tetapi karena Nabi sedang menghadapi orang-orang penting yaitu beberapa tokoh Quraisy seperti ‘Utbah bin Rabī’ah, Syaibah bin Rabī’ah, Abū Jahal bin Hisyām, al-‘Abbās bin ‘Abdul-Muṭṭalib, Umayyah bin Khalaf, dan al-Walīd bin al-Mugīrah. Mereka ini sangat diharapkan Nabi untuk masuk Islam agar memperkuat posisi Islam dalam masyarakat Quraisy. Akan tetapi, ternyata sikap Nabi yang demikian, yaitu tidak peduli dan memalingkan muka dari orang kecil yang buta yaitu ‘Abdullāh bin Ummi Maktūm, ditegur Allah. Nabi harus menjadi contoh yang baik bagi semua orang.














































