اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
Au yażżakkaru fatanfa‘ahuż-żikrā.
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?
Atau tahukah engkau bila dia datang karena dia ingin mendapatkan pengajaran Al-Qur’an dan ajaran Islam darimu, yang memberi manfaat kepadanya sehingga dia lebih tekun beribadah, beramal saleh, dan menjadi pengikut setiamu?
Dalam ayat-ayat ini, Allah menegur Rasul-Nya, “Apa yang memberitahukan kepadamu tentang keadaan orang buta ini? Boleh jadi ia ingin membersihkan dirinya dengan ajaran yang kamu berikan kepadanya atau ingin bermanfaat bagi dirinya dan ia mendapat keridaan Allah, sedangkan pengajaran itu belum tentu bermanfaat bagi orang-orang kafir Quraisy yang sedang kamu hadapi itu.”
‘Abasa عَبَسَ (‘Abasa/80: 1)
Kata ‘abasa adalah fi‘il maḍī yaitu ‘abasa-ya‘bisu-‘absan wa ‘abūsan artinya memberengut, bermuka masam. Ayat 1 ini menggambarkan bahwa Nabi Muhammad bermuka masam dan memalingkan muka ke arah lain dari orang yang bertanya kepada beliau. Orang yang bertanya itu adalah ‘Abdullāh bin Ummi Maktūm, seorang buta yang ingin menanyakan sesuatu kepada Nabi. Tetapi karena Nabi sedang menghadapi orang-orang penting yaitu beberapa tokoh Quraisy seperti ‘Utbah bin Rabī’ah, Syaibah bin Rabī’ah, Abū Jahal bin Hisyām, al-‘Abbās bin ‘Abdul-Muṭṭalib, Umayyah bin Khalaf, dan al-Walīd bin al-Mugīrah. Mereka ini sangat diharapkan Nabi untuk masuk Islam agar memperkuat posisi Islam dalam masyarakat Quraisy. Akan tetapi, ternyata sikap Nabi yang demikian, yaitu tidak peduli dan memalingkan muka dari orang kecil yang buta yaitu ‘Abdullāh bin Ummi Maktūm, ditegur Allah. Nabi harus menjadi contoh yang baik bagi semua orang.







































