كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ
Kallā lammā yaqḍi mā amarah(ū).
Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.
Allah telah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada manusia, namun banyak dari mereka enggan bersyukur, bahkan berbuat maksiat. Sungguh suatu hal yang mengherankan. Sekali-kali jangan berbuat demikian; dia itu belum melaksanakan apa yang Dia perintahkan kepadanya, yaitu beriman, beribadah, dan menaati aturan-Nya.
Dalam ayat ini, Allah mengulangi lagi peringatan-Nya akan kekafiran manusia terhadap nikmat-Nya dengan menyatakan bahwa setiap orang kafir itu sangat aneh. Semestinya mereka beriman dan mengagungkan Allah setelah merasakan nikmat yang dianugerahkan kepada mereka, tetapi mereka bersikap sebaliknya. Mereka mengingkari nikmat itu seakan-akan hanya hasil usaha mereka sendiri.
Safarah سَفَرَةٍ (‘Abasa/80: 15)
Safarah adalah bentuk jamak dari sāfir yaitu isim fā’il atau orang yang melakukan pekerjaan tersebut, berasal dari fi‘il safara-yasfuru-sufūran wa safran artinya bepergian, menyapu, menulis. Ayat 15 surah ini yang berbunyi: bi aidī safarah (pada tangan-tangan para penulis, atau di tangan-tangan para utusan yaitu malaikat). Rangkaian ayat-ayat ini sedang menggambarkan tentang Al-Qur’an yang berfungsi sebagai hidayah atau petunjuk dan pelajaran dari Allah bagi semua manusia. Al-Qur’an sebagai salah satu dari kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi, sangat mulia dan tinggi ajaran dan ilmunya, suci dari segala macam bentuk kesalahan dan pengaruh buruk dari setan, diturunkan dengan perantaraan para penulis atau utusan yaitu malaikat. Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad, Al-Qur’an tersimpan pada Lauḥ Maḥfūẓ artinya pada lembaran yang terjaga. Para malaikat adalah makhluk yang mulia dan senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, tidak pernah membangkang terhadap perintah-Nya, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, demikian disebutkan dalam Surah at-Taḥrīm/66: 6).













































