فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ
Falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmih(ī).
Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
Jika manusia bersikeras dengan keingkarannya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya yang dia makan setiap hari; dari mana makanan itu berasal?
Dalam ayat ini, Allah menyuruh manusia untuk memperhatikan makanannya, bagaimana Ia telah menyiapkan makanan yang bergizi yang mengandung protein, karbohidrat, dan lain-lain sehingga memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia dapat merasakan kelezatan makanan dan minumannya yang juga menjadi pendorong bagi pemeliharaan tubuhnya sehingga tetap dalam keadaan sehat dan mampu menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya.
1. Syaqaqnā شَقَقْنَا (‘Abasa/80: 26)
Kata syaqaqnā adalah fi’il māḍī yang dihubungkan dengan ḍamīr nā (kami) yang artinya kami belah, kami bukakan, atau kami rekah. Ayat 26 ini menggambarkan betapa Allah telah menganugerahkan dan melimpahkan berbagai macam makanan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan mereka di dunia. Allah mencurahkan air hujan di muka bumi dengan sangat cukup, kemudian merekahkan permukaan bumi supaya terbuka dan mendapat sinar matahari dan udara juga masuk menyuburkan bumi. Bumi menjadi subur dan segala macam tanam-tanaman pun tumbuh di muka bumi baik biji-bijian, sayur-sayuran, buah-buahan dan segala macam yang dibutuhkan manusia. Kata syaqaqnā dengan menggunakan fi’il māḍī di sini bukan berarti terjadi pada masa yang lalu, tetapi menunjukkan benar-benar terjadi, pasti terjadi, sebagaimana kisah-kisah tentang hari Kiamat dan peristiwa hari akhirat yang menggunakan fi’il māḍī adalah menunjukkan hal itu benar-benar terjadi.
2. Gulban غُلْبًا (‘Abasa/80: 30)
Gulb artinya lebat, pohon-pohon yang rindang, banyak daun dan cabang-cabangnya. Kata al-galb adalah bentuk isim maṣdar dari fi’il galaba-yaglibu-galban wa galbatan yang artinya mengalahkan atau mengatasi. Ayat 30 yang berbunyi wa ḥadā’iqa gulban adalah ‘aṭaf atau sambungan dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu mulai dari ayat 27, 28, 29, dan 30, yang artinya: Maka Kami tumbuhkan di sana biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, dan kebun-kebun yang rindang, banyak cabangnya dan lebat daunnya. Dalam kalimat ini, kata gulban adalah sebagai maf‘ūl muṭlaq yang menunjukkan jenis tumbuh-tumbuhan yang lebat dan rindang. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia pada suasana kesejukan di mana sinar dan panas matahari diserap oleh daun-daun yang hijau sehingga udara di sekelilingnya menjadi sejuk dan segar, seperti sering dikatakan hutan yang lebat adalah paru-paru dunia.











































