Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 32 - Surat Ad-Dukhān (Kabut Asap)
الدّخان
Ayat 32 / 59 •  Surat 44 / 114 •  Halaman 497 •  Quarter Hizb 50.5 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَلَقَدِ اخْتَرْنٰهُمْ عَلٰى عِلْمٍ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۚ

Wa laqadikhtarnāhum ‘alā ‘ilmin ‘alal-‘ālamīn(a).

Sungguh, dengan (dasar) pengetahuan, Kami pilih mereka di atas seluruh alam (semua bangsa pada masa itu).

Makna Surat Ad-Dukhan Ayat 32
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan dengan sungguh-sungguh, Kami telah memilih mereka, yakni Bani Israil, dengan dasar ilmu Kami untuk memiliki kelebihan di atas semua bangsa-bangsa yang lain pada masa itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menerangkan bahwa Dia telah memilih Bani Israil atas orang-orang pandai pada zaman mereka; menurunkan kepada mereka kitab-kitab Samawi, mengutus pada mereka rasul-rasul karena Dia Maha Mengetahui kesanggupan dan kemampuan mereka.

Beberapa fakta sejarah dan fakta kekinian telah membuktikan pernyataan Allah swt, seperti tercantum dalam Al-Qur’an, Surah al-Jāṡiyah/45: 16 di bawah ini.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُم ْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ۚ ١٦

Dan sungguh, kepada Bani Israil telah Kami berikan Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian, Kami anugerahkan kepada mereka rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masa itu).

Fakta sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa sebagian besar para Nabi dan rasul berasal dari kalangan Bani Israil. Nama-nama para nabi/rasul dari kalangan Bani Israil, yang tercantum di dalam Al-Qur’an, diawali dari Nabi Yakub. Nabi-nabi yang bergelar Israil, adalah: (1) Yakub [Jacob], (2) Yusuf [Joseph], (3) Musa [Moses], (4) Harun [Aron], (5) Daud [David], (6) Sulaiman [Solomon], (7) Ilyas [Eliah], (8) Ilyasa [Elisha], (9) Uzair [Ezra], (10) Zulkifli [Ezekiel], (11) Junus [Jonah] (12) Ayyub [Job], (13) Zakariyya [Zeccharia], (14) Yahya [John], dan (15) Isa [Jesus]. Jika moyang Israil seperi Nabi Ibrahim [Abraham], Nabi Lut [Lot], dan Nabi Ishak [Isaac], dimasukkan, maka jumlah nabi/rasul dari kalangan Israil yang tercantum dalam Al-Qur’an adalah 18 orang. Dari fakta sejarah ini jelas, bahwa bangsa Israil telah dikaruniai banyak rasul/nabi melebihi bangsa-bangsa lainnya. Sebagai pelengkap dari anugerah derajat kenabian/kerasulan itu, Allah swt menurunkan Kitab Suci Taurat kepada Nabi Musa dan Kitab Suci Zabur kepada Nabi Daud, yang menjadi pegangan hukum bagi kalangan Israil. Kemudian diturunkan pula Kitab Suci Injil kepada Nabi Isa, yang mestinya menjadi pegangan hukum pula bagi kalangan Bani Israil, namun kemudian ditolak oleh Bani Israil. Dalam agama Kristiani, kitab Taurat, Zabur dan Injil, dijadikan pegangan, dan ketiga Kitab Suci itu dikompilasikan ke dalam Perjanjian Lama (untuk Taurat dan Zabur) dan Perjanjian Baru (untuk Injil). Ketiga Kitab Suci itulah yang telah membangkitkan atau melahirkan peradaban Yahudi-Kristiani yang ada di dunia sampai saat ini. Fakta sejarah juga menjelaskan kepada kita bahwa Nabi Daud dan Nabi Sulaiman adalah seorang raja yang sangat adil, dan kekuasaannya membentang sangat luas. Pada masa Raja Sulaiman, kekuasaannya membentang dari Palestina di barat sampai perbatasan India di sebelah timur. Ke selatan sampai dengan Yaman dan di utara sampai ke perbatasan Siria.

Fakta kekinian juga memperlihatkan bahwa banyak pionir ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu kealaman, teknologi atau ilmu-ilmu sosial, muncul dari kalangan Bani Israil. Para Pemenang Nobel (Nobel Laurreates) adalah dari kalangan Bani Israil. Mereka adalah: Albert Einstein (ahli Fisika, dan Kosmologi), Enrico Fermi (ahli Fisika-nuklir), Erwin Schrodinger (ahli Fisika Kuantum), Max Born (ahli Fisika Kuantum), Raould Hoffman (ahli Kimia Fisika Organik), Richard Feynmann (ahli Fisika Kuantum). Disamping itu, para ahli filsafat, seperti Karl Marx (penemu teori ekonomi Marxian), Charles Darwin (penemu Teori Evolusi) dan Sigmund Freud (ahli Psikoanalisis), juga berasal dari kalangan Bani Israil. Pionir-pionir di atas telah mempengaruhi jalannya sejarah umat manusia sekarang ini.

Fakta di atas, telah dapat menjelaskan kepada kita tentang pernyataan Allah swt, yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah 44: 32 dan 45: 16. Faktor genetik merupakan kunci dari keunggulan manusia, sebagaimana keunggulan dalam dunia Botani (Tumbuhan) maupun Zoologi (Hewan). Faktor genetik manusia juga dipengaruhi oleh lingkungannya. Jika suatu populasi kelompok manusia (Kelompok-A) bermigrasi ke suatu tempat kelompok manusia yang lain (kelompok-B), dan apabila terjadi perkawinan di antara anggota kedua populasi itu, maka akan terjadi gene flow baik dari gene kelompok-A ke kelompok-B maupun sebaliknya (lihat The New Encyclopaedia Brittanica, Vol. 19, Macropaedia, 2005, Gene in Populations, hal. 719-720)

Gene flow ini mampu memperkaya faktor genetik. Lebih kurang 4000 tahun yang lalu, keluarga Nabi Ibrahim, yang terdiri dari istri Beliau: Sarah, keponakan beliau: Nabi Lut, bermigrasi dari wilayah Ur (Babilonia, atau Iraq sekarang ini), ke utara sampai di wilayah Harran (Sekarang masuk wilayah tenggara Turki). Kemudian bermigrasi lagi ke selatan, yaitu ke Siria, Palestina; dan terus ke Mesir, dimana Beliau menikahi Hajar. Keluarga Ibrahim ini kemudian bermigrasi ke Arabia dan balik ke Palestina. Beliau bermukim disana sampai wafatnya. Karena seringnya berpindah-pindah tempat inilah maka kelompok kecil keluarga Ibrahim ini, dikenal sebagai suku Ibrani, artinya yang berpindah-pindah tempat. Dalam migrasinya ini, kelompok keluarga Ibrahim ‘berhubungan’ dengan banyak peradaban-peradaban maju waktu itu, seperti peradaban Babilonia, Assyria, Kanaan, dan Mesir. Gen flow tentu akan terjadi pada era migrasi Ibrahim ini, sehingga suku Ibrani mengalami pengayaan genetik (genetic enrichment). Yang unik adalah, suku Ibrani ini tetap mampu menjaga ciri khasnya sebagai suku yang menganut Tauhid; berbeda dengan umat-umat sekitarnya. Kebiasaan suku Ibrani ini, yang kemudian diteruskan oleh generasi yang lebih muda: Bani Israil, diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya, baik dengan perluasan wilayah, seperti pada era Raja Sulaiman, maupun pada saat Bani Israil mengalami ‘pembuangan’ selama hampir 2000 tahun di Eropa, mulai dari tahun 70 M sampai mereka kembali ke Palestina tahun 1948 M. Gene enrichment selama hampir 4000 tahun peradaban Israil terjadi; ini mungkin kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepada umat Israil itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. An lā Ta‘lū اَنْ لَا تَعْلُوا (ad-Dukhān/44: 19)

Kata ta‘lū berasal dari akar kata ‘alā-ya‘lū-‘ulwan-wa huwa-‘ālin yang merupakan antonim dari kata as-sufl yang berarti di bawah. Jadi kata ‘uluw artinya adalah ketinggian. Senada dengan kata ini adalah kalimat ‘aliya-ya‘lā-‘alā-fa huwa-‘aliyyun. Perbedaannya, kata ‘alā lebih banyak digunakan untuk menerangkan tentang tempat dan jisim (sesuatu yang berbentuk dan bersifat materi). Sebagian membedakannya bahwa kata ‘alā digunakan pada sesuatu yang terpuji ataupun tercela, seperti termaktub dalam Surah an-Nāzi‘āt/79: 24 dan Surah Ṭāhā/20: 64, sedangkan kata ‘aliya lebih sering digunakan pada sesuatu yang terpuji saja. Kedua akar kata ini yang terbentuk dari huruf ‘ain, lām dan yā′ atau wāu menunjuk kepada makna ketinggian baik bersifat material atau immaterial. Ketinggian dengan menganggap bahwa orang lain atau sesuatu yang lain lebih rendah atau berada di bawahnya. Firman Allah dalam Surah Ṭāhā/20: 4 menandakan bahwa langit itu yang paling mulia. Salah satu Surga yang dijanjikan oleh Allah bernama ‘Illiyyīn (al-MuṬaffifīn/83: 18) dianggap surga paling tinggi dan mulia dibandingkan dengan surga yang lain.

Dari kata tersebut kemudian lahir makna-makna lainnya seperti sombong karena yang bersangkutan merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Kata ini juga mengandung arti menaklukan atau mengalahkan karena keduanya berkedudukan lebih tinggi dari yang ditaklukan atau yang dikalahkan. Allah swt menamai dirinya dengan kata “al-‘Aliyy” karena Dia yang Maha Menaklukkan seluruh makhluk-Nya. Allah Mahatinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian-Nya.

Dalam Al-Qur’an kata ‘aliy ditemukan sebanyak 11 kali, sembilan diantaranya menerangkan tentang sifat Allah, dirangkai dengan sifat Kabîr lima kali, dengan ‘aẓīm dua kali dan dengan kata hakīm sebanyak dua kali. Ketika disandingkan dengan kata kabīr artinya bahwa Mahatinggi lagi Mahabesar. Sedangkan dua kata yang lain menerangkan tentang kedudukan tinggi yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Idris dan Nabi Ibrahim. Sedangkan penyebutan kata ‘alā terdapat sembilan kali. Diantaranya pengakuan Fir‘aun kepada Nabi Musa yang mengaku sebagai Tuhan yang Mahatinggi (Rabbukumul-a‘lā). Tetapi biasanya kalimat ini digunakan dalam konteks komparatif, sehingga pada akhirnya mengantar setiap makhluk untuk menyadari bahwa Allah-lah yang pantas untuk disebut sebagai Yang Mahatinggi.

Pada ayat ini Allah menjelaskan tentang kisah Nabi Musa ketika menyebarkan risalahnya kepada Fir‘aun. Salah satu ajakannya adalah agar umatnya Bani Israil tidak menyombongkan diri (an lā ta‘lū) dan menganggap dirinya yang paling kuat. Karena sebenarnya yang pantas untuk berlaku sombong hanyalah Allah karena Dialah yang memiliki segalanya.

2. Bakat بَكَتْ (ad-Dukhān/44: 29)

Kata bakat merupakan fi‘il māḍī yang berasal dari akar kata bakā-yabkī-bukan-wa bukāan yang berarti mencucurkan air mata karena sedih diiringi dengan suara meraung-raung atau meratapi. Sedangkan kata bukan (tanpa mad) berarti mencucurkan air mata karena teramat sedih tanpa diiringi oleh suara ratapan. Bentuk jamaknya adalah bākūna dan bukiyyun (Maryam/19: 58). Kalimat ini juga diartikan berbarengan, meratap sambil mencucurkan air mata. Tetapi juga bisa digunakan untuk masing-masing makna, karena menangis tidak berarti harus keluar air mata. Kata bakā juga tidak berarti menangis karena sedih, tetapi ada juga menangis karena terharu dan bahagia.

Kata ini dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 7 kali dalam Al-Qur’an, (bakat, tabkūna, walyabkū, yabkūna-dua kali-, abkā dan bukiyyā). Kesemuanya cenderung digunakan untuk menandakan ada kesedihan didalamnya. Pada ayat yang sedang dibahas (famā bakat ‘alaihim as-samā wa al-arḍ) mengandung dua makna, pertama bahwa langit dan bumi tidak menangisi kehancuran Fir‘aun dan kaumnya walaupun mereka meninggalkan harta dan kebun mereka. Pemaknaan ini mungkin saja digunakan walaupun kata bakā lebih sering digunakan pada manusia, tetapi langit dan bumi pun menangis bagi mereka yang mengetahuinya. Kedua, bahwa kalimat ini mengandung kata sisipan sehingga menjadi famā bakat ahlus-samā wal-arḍ, jadi maknanya adalah penghuni langit dan bumi tidak menangisi atas kehancuran mereka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto