Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 5 - Surat Ad-Dukhān (Kabut Asap)
الدّخان
Ayat 5 / 59 •  Surat 44 / 114 •  Halaman 496 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَاۗ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَۖ

Amram min ‘indinā, innā kunnā mursilīn(a).

(Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul)

Makna Surat Ad-Dukhan Ayat 5
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

yaitu urusan yang datang dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul kepada umat-umat terdahulu dan termasuk engkau, ya Muhammad, yang diutus kepada kaummu,

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menerangkan bahwa pada malam “Lailatul Mubārakah”, dijelaskan segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk dan sebagainya. Semuanya itu merupakan ketentuan dari Allah yang penuh hikmah sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Ayat 5 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia dari golongan mereka sendiri, membersihkan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka al-kitab, al-hikmah; agar menjadi hujah bagi Allah atas hamba-Nya dan menjadi alasan untuk menghukum mereka apabila mereka berbuat dosa, menentang rasul yang diutus kepada mereka, menolak petunjuk yang dibawa oleh rasul itu dari Allah dan tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah dan tidak menerima siksaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isrā’/17: 15)

Dan firman-Nya:

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (an-Nisā’/4: 165)

Isi Kandungan Kosakata

Lailah Mubārakah لَيْلَة مُبَارَكَة (ad-Dukhān/44: 3)

Kalimat lailah mubārakah terdiri dari dua kata yaitu lailah dan mubārakah. Kata lailah bermakna malam hari yang dimulai dari terbenamnya matahari sampai terbit kembali. Kata ini merupakan antonim dari kata nahār. Keduanya tidak akan pernah bersatu. Lail alyāl malam yang sangat pekat dan gelap. Lailā juga nama untuk kerudung hitam. Orang Arab menggunakan kata ini untuk sesuatu yang lemah, oleh karena itu lailah adalah nama untuk perempuan. Laki-laki yang lemah dan dungu disebutnya dengan Abū Laila. Mua‘wiyah bin Yazid mendapatkan gelar ini karena pemerintahannya hanya bertahan tiga bulan saja.

Sedangkan kata mubārakah berasal dari kata bāraka-yubāriku-mubārakat an yang berarti tumbuh dan bertambah. Di dalamnya ada makna keberkahan, kebahagiaan dan kenikmatan. At-tabrīk adalah doa seseorang kepada orang lain agar mendapatkan keberkahan. Bārakallāh ‘alaik semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu. Tabārakallah artinya Mahasuci Allah. Bāraka juga berarti pada sekumpulan unta yang sedang mendekam. Diartikan juga dengan bagian dada. Pengertian pertama lebih banyak digunakan dan populer dalam arti keberkahan.

Kata lailah mubārakah dipahami oleh mayoritas ulama dan mufasir dalam arti malam lailatul qadar yang terjadi pada bulan Ramadan sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah al-Qadr/97: 1. Tetapi meskipun para ulama berbeda pendapat dalam penentuan malam ini, ayat di atas merupakan penegasan dari Surah al-Qadr bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam yang penuh berkah, kebahagiaan dan kenikmatan. Sebagian ulama memahami lailah mubārakah di sini dengan malam niṣfu Sya‘ban atau tanggal 15 Sya‘ban berdasarkan sebuah hadis bahwa Nabi saw bersabda: “Kalau malam pertengahan Sya‘ban tiba, maka salatlah pada malam harinya dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun pada saat terbenamnya matahari ke langit dunia dan berfirman “Adakah yang memohon ampun sehingga Ku ampuni, adakah yang menerima cobaan sehingga Ku anugerahi perlindungan, adakah yang memohon rezeki sehingga Ku beri rezeki.” Imam Nawawi secara tegas menolak pendapat ini dan berpendapat bahwa lailah mubārakah adalah malam bulan Ramadan bukan niṣfu Sya‘bān.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto