اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ جَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Ulā'ika aṣḥābul-jannati khālidīna fīhā, jazā'am bimā kānū ya‘malūn(a).
Mereka itulah para penghuni surga (dan) kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Kelak di akhirat, mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah kemudian istikamah dalam keimanannya dengan melaksanakan ibadah dan perintah-perintah Allah, tetap bertawakal, dan menghindari larangan-larangan-Nya, akan memperoleh kebahagiaan abadi di akhirat, yaitu menjadi penghuni surga dan kekal di dalamnya. Bagi mereka disediakan berbagai kenikmatan di surga, sebagai balasan atas amal saleh mereka di dunia.
Sikap istikamah setelah beriman dan melaksanakan ibadah kepada Allah merupakan hal yang penting dan sangat terpuji, sebagaimana hadis Nabi saw yang memerintahkan kepada kita semua:
قُلْ اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ فَاسْتَقِمْ. (رواه مسلم عن سفيان بن عبد الله الثقفي)
Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” lalu beristikamahlah. (Riwayat Muslim dari Sufyān bin ‘Abdullāh aṡ-Ṡaqafī)
Aṣḥābul-Jannah اَصْحَابُ الْجَنَّةِ (al-Aḥqāf/49: 14)
Kalimat aṣḥābul-jannah dalam Surah al-Aḥqāf ayat 14 terdiri dari dua kata, aṣḥāb yang merupakan bentuk plural (jama‘) dari kata ṣāḥib dan al-jannah. Kata ṣāḥib berarti yang memiliki, yang berhak, dan yang mendiami. Sedangkan kata al-jannah secara etimologi berarti surga atau taman impian yang indah. Dengan demikian, kata aṣḥābul-jannah berarti para penghuni surga. Dalam konteks ayat ini, aṣḥābul-jannah dimaksudkan sebagai penggambaran situasi dan kondisi dari para penghuni surga yang kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup di dunia.














































