اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ۗبَلٰٓى اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Awalam yarau annallāhal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa lam ya‘ya bikhalqihinna biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā, balā innahū ‘alā kulli syai'in qadīr(un).
Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi serta tidak merasa lelah karena menciptakannya, Dia kuasa untuk menghidupkan yang mati? Tentu demikian. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya dan mengaturnya sepanjang waktu, dan Dia kuasa menghidupkan makhluk yang mati? Begitulah; sungguh, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah, sebab Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ayat ini merupakan teguran keras kepada orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan, dan adanya hidup setelah mati untuk menghisab perbuatan yang telah dilakukan manusia. Allah mencela orang-orang kafir yang lalai dan tidak pernah merenungkan kejadian alam semesta ini sehingga tidak mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi tidak pernah merasa letih dalam penciptaan itu. Allah juga berkuasa menghidupkan yang telah mati.
Dari ayat ini dipahami bahwa orang kafir tidak pernah menggunakan pikirannya untuk merenungkan kejadian alam semesta dalam arti yang sebenarnya. Mereka tidak mau memikirkan siapa pencipta alam yang amat teratur dan dilengkapi dengan hukum-hukum yang sangat rapi dan kokoh. Mereka juga tidak mau memikirkan siapa yang menciptakan dirinya sendiri dan menjaga kelangsungan hidupnya. Seandainya mereka mau memikirkan dengan tujuan ingin mencari kebenaran, mereka akan sampai kepada kesimpulan bahwa pencipta semua itu adalah Allah yang Mahabijaksana lagi Mahakuasa. Jika Allah Mahakuasa, tentulah Dia sanggup melaksanakan segala sesuatu yang Dia kehendaki, tanpa mengenal lelah. Zat yang bersifat demikian tentu mudah bagi-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang telah dimatikan-Nya, karena menciptakan langit dan bumi itu jauh lebih sukar daripada menciptakan manusia serta mematikan dan menghidupkan kembali.
Allah berfirman:
لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٥٧
Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Gāfir/40: 57)
Selain itu, biasanya membuat kembali sesuatu lebih mudah dari menciptakan pertama kalinya. Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ ٢٧
Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rūm/30: 27)
Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa yang Maha Pencipta segala sesuatu lagi Mahaperkasa itu adalah Allah Yang Mahakuasa. Dia dapat melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tanpa seorang pun dapat menghalangi dan menentang-Nya.
1. Lam Ya‘ya لمَ ْيَعْيَ (al-Aḥqāf/46: 33).
Lam ya‘ya artinya tidak merasa lelah. Berasal dari fi‘il ‘ayiya-ya‘ya-‘ayyan artinya lelah, lemah, sakit. Didahului huruf nafi sehingga artinya tidak lelah, tidak lemah. Pada ayat 33, Allah menerangkan bahwa sungguh Allah yang menciptakan langit dan bumi tidak merasa lelah dengan penciptaan itu semua. Selanjutnya dikatakan bahwa Allah berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati. Jadi tidak benar anggapan orang Nasrani yang mengatakan bahwa setelah Allah menciptakan langit dan bumi kemudian karena lelah lalu harus beristirahat di surga, sehingga untuk mengatur alam selanjutnya diserahkan kepada tuhan putra, yaitu Isa al-Masih. Pendapat ini mengandung tidak kurang dari tiga kesalahan besar, yaitu Allah lelah, Allah berputra, dan Isa al-Masih adalah putra-Nya. Allah Mahakuasa, kuasa menciptakan langit, bumi dan seisinya, kuasa memelihara dan mengatur alam ciptaan-Nya, dan kuasa pula menghidupkan orang-orang yang mati.
2. An-Nār النَّار (al-Aḥqāf/46: 34)
An-Nār artinya api. Dalam ayat 34 sebagaimana pada ayat-ayat lain yang dimaksud an-nār adalah neraka, karena azab neraka memang penuh dengan kobaran api yang sangat panas. Dalam Al-Qur’an banyak diterangkan tentang azab atau siksa neraka bagi orang-orang kafir, dan orang musyrik yang menyekutukan Allah akan dihukum kekal di neraka. Ada tujuh macam neraka yaitu:
1) Neraka wail (yang paling ringan siksaannya), Surah al-Humazah/104: 1
2) Neraka ḥāmiyah (yang sangat dalam), Surah al-Qāri‘ah/101: 8-11.
3) Neraka laẓā (yang bergejolak apinya dan dapat mengelupaskan kulit kepala), Surah al-Ma‘ārij/70: 15-18.
4) Neraka sa‘īr (yang menyala-nyala dan menyediakan alat pelempar setan), Surah al-Mulk/67: 5.
5) Neraka saqar (yang membakar manusia dan mengoyak-ngoyak kulitnya, tetapi kemudian diganti lagi, demikian terus berulang-ulang), Surah al-Muddaṡṡir/74: 26-30.
6) Neraka huṭamah (yang membakar manusia sampai ke ulu hatinya), Surah al-Humazah/104: 4.
7) Neraka jaḥīm atau jahanam (yang paling berat siksaannya), Surah al-‘Arāf/ 7: 179 dan Surah Qāf/50: 30.
















































