وَمَنْ لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللّٰهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِى الْاَرْضِ وَلَيْسَ لَهٗ مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءُ ۗ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Wa mal lā yujib dā‘iyallāhi falaisa bimu‘jizin fil-arḍi wa laisa lahū min dūnihī auliyā'(u), ulā'ika fī ḍalālim mubīn(in).
Siapa yang tidak memenuhi (seruan Nabi Muhammad) yang mengajak pada (agama) Allah tidak kuasa (melepaskan diri dari siksa Allah) di bumi dan tidak ada para pelindung baginya selain Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata.”
“Dan barang siapa tidak menerima seruan orang yang menyeru kepada Allah yaitu Nabi Muhammad maka dia tidak akan dapat melepaskan diri dari siksa Allah di muka bumi, jika Allah berkehendak untuk menimpakan siksa padahal tidak ada pelindung baginya yang dapat melindungi mereka dari siksaan itu selain Allah. Mereka yang tidak mengikuti seruan itu sungguh berada dalam kesesatan yang nyata.” Jalan yang benar telah dijelaskan, dan telah diberikan pula tuntunan bagaimana menempuh jalan itu. Siapa yang menempuh jalan itu akan selamat, dan siapa yang menyeleweng akan mendapat hukuman. Demikian ketetapan Allah yang berlaku bagi golongan jin dan manusia.
Kemudian diterangkan dalam ayat ini bahwa jika ada di antara jin yang menolak seruan Muhammad sebagai rasul Allah, yaitu tidak melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya yang tersebut dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ia tidak dapat menghindarkan diri dari azab-Nya. Ia tidak mendapat seorang penolong pun untuk melepaskan dirinya dari azab Allah, kecuali jika Allah sendiri menghendakinya.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seluruh ibadah yang diwajibkan kepada kaum Muslimin diwajibkan pula kepada seluruh jin untuk mengerjakannya, seperti salat, puasa, tolong-menolong, dan sebagainya. Diterangkan pula bahwa jin-jin yang tidak mengikuti seruan Muhammad saw berada dalam kesesatan dan menyimpang dari jalan yang benar.
1. Al-Jinn الْجِنّ (al-Aḥqāf/46: 29)
Al-Jinn (jin) adalah makhluk Allah yang juga terkena taklīf atau beban kewajiban agama seperti manusia. Sebagaimana manusia ada yang mukmin dan ada yang kafir, jin juga ada yang mukmin dan ada yang kafir. Bedanya, manusia adalah makhluk yang mempunyai fisik (jasmani) dan mental (rohani), sedangkan jin adalah makhluk rohani saja, tidak mempunyai fisik sehingga tidak kasat mata, tidak dapat diraba, dan suaranya tidak terdengar oleh telinga kita. Secara bahasa, kata jin berasal dari fi‘il janna-yajinnu-jinānan wa junūnan wa jinnan yang artinya gelap, tertutup, tersembunyi. Pada ayat 29 diterangkan bahwa ada serombongan jin menghadap Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Para jin itu mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh, setelah itu mereka pergi dan menyampaikannya kepada kaumnya.
2.Yujirkum يُجِرْكُمْ (al-Aḥqāf/46: 31)
Yujirkum adalah fi‘il muḍāri‘ yang dihubungkan dengan ḍamīr atau kata ganti orang kedua jamak. Berasal dari fi‘il ajāra-yujīru-ajrāran artinya mencegah atau menghalangi. Pada akhir ayat 31 disebutkan ungkapan yang artinya: “Dan berimanlah kamu semua kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan mencegah kamu dari azab yang pedih.” Memang yang dapat mencegah seseorang dari azab hanyalah Allah, untuk itu dipersyaratkan kita beriman kepada-Nya dan hari akhir serta memenuhi ketentuan dan seruan-Nya. Ayat 31 ini menerangkan ajakan beberapa jin yang telah mendengarkan pembacaan Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad, kemudian setelah kembali mereka mengajak kaumnya untuk menerima seruan Nabi Muhammad.




































