قَالُوْا يٰقَوْمَنَآ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْٓ اِلَى الْحَقِّ وَاِلٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Qālū yā qaumanā innā sami‘nā kitāban unzila mim ba‘di mūsā muṣaddiqal limā baina yadaihi yahdī ilal-ḥaqqi wa ilā ṭarīqim mustaqīm(in).
Mereka berkata, “Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan setelah Musa sebagai pembenar (kitab-kitab) yang datang sebelumnya yang menunjukkan pada kebenaran dan yang (membimbing) ke jalan yang lurus.
Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan pembacaan Kitab yang agung yaitu Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah setelah kitab Nabi Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang datang sebelumnya, yang membimbing siapa yang mengikuti tuntunannya kepada kebenaran dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa serombongan jin yang telah mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw menyeru kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengar pembacaan ayat-ayat sebuah kitab yang telah diturunkan Allah setelah Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa. Kitab itu membenarkan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya, menunjukkan jalan yang paling baik ditempuh seseorang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat serta menerangkan jalan yang diridai dan jalan yang tidak diridai Allah.” Jin juga makhluk yang harus memikul kewajiban beribadah. Firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (aż-Żariyāt/51: 56)
1. Al-Jinn الْجِنّ (al-Aḥqāf/46: 29)
Al-Jinn (jin) adalah makhluk Allah yang juga terkena taklīf atau beban kewajiban agama seperti manusia. Sebagaimana manusia ada yang mukmin dan ada yang kafir, jin juga ada yang mukmin dan ada yang kafir. Bedanya, manusia adalah makhluk yang mempunyai fisik (jasmani) dan mental (rohani), sedangkan jin adalah makhluk rohani saja, tidak mempunyai fisik sehingga tidak kasat mata, tidak dapat diraba, dan suaranya tidak terdengar oleh telinga kita. Secara bahasa, kata jin berasal dari fi‘il janna-yajinnu-jinānan wa junūnan wa jinnan yang artinya gelap, tertutup, tersembunyi. Pada ayat 29 diterangkan bahwa ada serombongan jin menghadap Nabi Muhammad untuk mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Para jin itu mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh, setelah itu mereka pergi dan menyampaikannya kepada kaumnya.
2.Yujirkum يُجِرْكُمْ (al-Aḥqāf/46: 31)
Yujirkum adalah fi‘il muḍāri‘ yang dihubungkan dengan ḍamīr atau kata ganti orang kedua jamak. Berasal dari fi‘il ajāra-yujīru-ajrāran artinya mencegah atau menghalangi. Pada akhir ayat 31 disebutkan ungkapan yang artinya: “Dan berimanlah kamu semua kepada Allah, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosamu dan mencegah kamu dari azab yang pedih.” Memang yang dapat mencegah seseorang dari azab hanyalah Allah, untuk itu dipersyaratkan kita beriman kepada-Nya dan hari akhir serta memenuhi ketentuan dan seruan-Nya. Ayat 31 ini menerangkan ajakan beberapa jin yang telah mendengarkan pembacaan Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad, kemudian setelah kembali mereka mengajak kaumnya untuk menerima seruan Nabi Muhammad.












































