Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 3 - Surat Al-Aḥqāf (Ahqaf)
الاحقاف
Ayat 3 / 35 •  Surat 46 / 114 •  Halaman 502 •  Quarter Hizb 51 •  Juz 26 •  Manzil 6 • Makkiyah

مَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَمَّآ اُنْذِرُوْا مُعْرِضُوْنَ

Mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musammā(n), wal-lażīna kafarū ‘ammā unżirū mu‘riḍūn(a).

Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan hak dan dalam wakyang ditentukan. Namun demikian, orang-orang yang kufur berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.

Makna Surat Al-Ahqaf Ayat 3
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa, yakni segala makhluk yang ada di antara keduanya melainkan dengan cara dan tujuan yang benar yang mengandung hikmah dan dalam batas waktu yang ditentukan. Selanjutnya akan tiba masanya semua ciptaan binasa dan manusia dibangkitkan untuk menerima balasan dari amal perbuatannya. Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka. Mereka tidak percaya datangnya hari Kiamat dan pembalasan di akhirat nanti atas perbuatan yang mereka lakukan di dunia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu-Nya, bukan karangan Muhammad saw, Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya. Penciptaan ini mengandung hikmah, meskipun manusia belum mampu mengetahui semua hikmah tersebut. Manusia harus selalu berusaha menggali hikmah tersebut agar bisa memanfaatkan pesan-pesan Al-Qur’an.

Dalam ayat lain diterangkan bahwa di antara tujuan Allah menciptakan bumi dan semua yang ada padanya ialah untuk kepentingan manusia. Allah berfirman:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Āli ‘Imrān/3: 191)

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi bukanlah untuk menimbulkan kezaliman dan kebinasaan, tetapi untuk melahirkan dan membuktikan kebenaran serta keadilan. Dalam menyatakan keadilan itu, Allah membedakan antara orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat buruk atau jahat, baik dalam sikap-Nya terhadap mereka, maupun dalam memberi balasan terhadap perbuatan mereka. Allah berfirman:

وَخَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ٢٢

Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (al-Jāṡiyah/45: 22)

Allah menciptakan langit dan bumi untuk waktu yang ditentukan-Nya sehingga dalam masa itu ada kesempatan bagi manusia melakukan segala sesuatu yang baik baginya, sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah agar ia dapat menikmati kebahagiaan hidup yang hakiki. Hal ini tentu sesuai pula dengan potensi dan hak ikhtiar yang diberikan Allah kepadanya.

Karena Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan segala hikmah dan manfaatnya, maka untuk menunjukkan keadilan-Nya dan membukti-kan hikmah penciptaan keduanya, Allah menciptakan hari pembalasan. Dengan adanya hari pembalasan itu, segala perbuatan manusia dapat dibalas dengan adil. Hari pembalasan akan datang setelah berakhirnya masa yang ditentukan bagi langit dan bumi. Pada hari pembalasan itu, ditetapkan pahala bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya berupa kebahagiaan abadi di dalam surga. Adapun orang-orang yang mengingkari perintah Allah dan melanggar larangan-Nya memperoleh kesengsaraan yang dialaminya di dalam neraka.

Pernyataan mengenai penciptaan langit dan bumi dilakukan dengan suatu tujuan yang benar banyak ditemui dalam Al-Qur’an (antara lain Surah Ibrāhīm/14: 19). Pada ayat 3 Surah al-Aḥqāf/46 ini, ditambahkan kata “dalam waktu yang ditentukan.” Kata-kata ini dapat diartikan bahwa Tuhan memberi tahu kita mengenai waktu yang diperlukan hingga bumi terbentuk dan layak dihuni. Uraian yang lebih lugas mengenai waktu atau masa dari penciptaan terdapat pada Surah al-A‘rāf/7: 54 (lihat penjelasan pada juz 8).

Pada akhir ayat ini diterangkan keingkaran orang-orang musyrik terhadap peringatan yang telah disampaikan kepada mereka. Diterangkan bahwa sekalipun kepada mereka telah disampaikan bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran Al-Qur’an sebagai firman Allah, pengangkatan Muhammad saw sebagai rasul-Nya, dan agama yang dibawa Muhammad saw, namun mereka tetap dalam kemusyrikan. Mereka tetap berpaling dari peringatan itu dengan mengingkari perintah Allah dan melanggar larangan-Nya, bahkan mereka menolak dalil-dalil dan bukti-bukti itu tanpa alasan yang benar. Mereka seakan-akan orang yang tuli, bisu, buta dan tidak berakal sehingga tidak dapat mendengar dan memahami seruan dan peringatan itu. Mereka tidak mau percaya bahwa kelalaian dan keingkaran mereka akan menimbulkan penyesalan yang terus-menerus di akhirat kelak, di samping mengalami siksaan yang amat berat.

Isi Kandungan Kosakata

1. Syirk شِرْكٌ (al-Aḥqāf/46: 4)

Secara kebahasaan syirk berarti bagian, dan keyakinan adanya banyak tuhan. Dalam konteks ayat ini, kata syirk berarti peran serta atau ambil bagian. Kata tersebut dalam ayat ini bermakna, "Atau adakah peran serta mereka dalam (penciptaan) langit?" Di sini Allah menegaskan bahwa dalam menciptakan dunia seisinya, Dia tidak memerlukan bantuan dalam bentuk apa pun dari hambanya.

Kata syirk dalam terminologi Islam yang lebih luas mempunyai dua ranah pokok, yaitu syirk dalam ranah aqidah (keyakinan) dan syirk dalam ranah ibadah. Syirk dalam ranah aqidah, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi saw:

وَالشِّرْكُ أَنْ تَجْعَلَ ِللهِ نِدّاً وَهُوَ خَلَقَكَ. (رواه مسلم وغيره عن عبد الله بن مسعود)

Syirik adalah kamu menjadikan tandingan bagi Allah padahal Allah yang menciptakanmu. (Riwayat Muslim dan yang lainnya dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd)

Sedangkan syirk dalam ranah ibadah berarti menjalankan ibadah kepada selain Allah. Sebagaimana kata ulama, syirik adalah memalingkan ibadah untuk selain Allah. Hal ini didasarkan pada hadis:

إِنَّ أَخْوَفَ ماَ أَخاَفُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قاَلُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَارَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قاَلَ: الـرِّيَاءُ. (رواه أحمد عن محمود بن لبيد)

Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil. Sahabat pun bertanya, “Apa (yang dimaksud dengan) syirik kecil, wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “(Yaitu) ria (mengerjakan amalan untuk selain Allah).” (Riwayat Aḥmad dari Maḥmūd bin Labīd)

2. Aṡārah اَثَارَة (al-Aḥqāf/46: 4)

Secara kebahasaan kata aṡārah merupakan bentuk maṣdar yang berderivasi dari akar kata aṡar yang berarti sisa, bekas, dan peninggalan dari orang-orang terdahulu. Kata tersebut dalam ayat ini bermakna peninggalan dari ilmu pengetahuan orang-orang terdahulu. Di samping itu, kata tersebut dapat juga diartikan sebagai peninggalan orang-orang terdahulu yang berupa buku, ajaran, atau petuah dari para nabi terdahulu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto