Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 61 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 61 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 135 •  Quarter Hizb 14.25 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗحَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ

Wa huwal-qāhiru fauqa ‘ibādihī wa yursilu ‘alaikum ḥafaẓah(tan), ḥattā iżā jā'a aḥadakumul-mautu tawaffathu rusulunā wa hum lā yufarriṭūn(a).

Dialah Penguasa mutlak di atas semua hamba-Nya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 61
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Jangan menduga kekuasaan Allah hanya seperti yang disebutkan pada ayat di atas. Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu, wahai manusia, malaikat-malaikat yang berfungsi sebagai penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, dan itu berarti usai sudah tugas malaikat penjaga tersebut, maka utusan-utusan Kami, yaitu malaikat-malaikat, mencabut nyawanya, dan mereka, yakni para malaikat tersebut, tidak akan pernah melalaikan tugasnya (Lihat: Surah at-Tahrim/6: 66).

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menegaskan kekuasaan, pemeliharaan dan pengawasan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dia tidak dapat dikuasai sedikit pun oleh makhluk-makhluk-Nya termasuk sembahan-sembahan dan patung-patung yang disembah oleh orang-orang musyrik, karena sembahan dan patung itu tidak mampu memegang kekuasaan dan tidak mampu memberi pertolongan, bahkan ia sendirilah yang diberi pertolongan.

Dari ayat ini dipahami bahwa hendaklah manusia menghambakan diri kepada Allah, karena segala ilmu, kekuasaan, kemerdekaan, kemampuan bergerak dan berdaya cipta merupakan anugerah Allah kepada mereka. Dia sanggup menambah atau mencabut anugerah-Nya kapan Dia kehendaki. Di saat Dia mencabut semua anugerah-Nya itu, maka manusia tidak mempunyai arti sedikit pun.

Allah juga mengirimkan kepada manusia malaikat-malaikat penjaga yang menjaga mereka dan merekam tindak-tanduk mereka setiap waktu. Semuanya dicatat dan tidak ada sesuatu pun yang tertinggal. Firman Allah swt:

وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ ١٠

Dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar. (at-Takwīr/81: 10)

Mengenai malaikat penjaga, tersebut dalam firman Allah swt:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ ١٠ كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ ١١ يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ ١٢

Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Infiṭār/82: 10-12).

Bahkan bagi tiap-tiap manusia ada beberapa malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula yang mencatat amalan-amalannya, yaitu Raqib dan Atid, sebagaimana firman Allah swt:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. (ar-Ra’d/13: 11)

Sabda Nabi saw:

يَتَعَاقَبُ وْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ يَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ فِيْكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَقَالَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَاٰتَيْنَاهُم ْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

Para malaikat berganti-ganti menjagamu, yaitu malaikat malam dan malaikat siang, mereka bertemu (berganti giliran) pada waktu salat subuh dan waktu salat aṣar. Kemudian malaikat yang menjagamu di malam hari naik ke langit, maka Tuhan menanyakan kepada mereka (sedang Dia lebih tahu dari mereka) “Bagaimanakah kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku.” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan salat dan kami datangi mereka dalam keadan salat pula.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abu Hurairah)

Sebenarnya Allah tidak memerlukan malaikat pencatat untuk mencatat segala perbuatan manusia, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dengan adanya malaikat pencatat yang mencatat seluruh perbuatan manusia, diharapkan manusia akan berhati-hati jika hendak mengerjakan suatu pekerjaan, apakah pekerjaan itu diridai Allah atau tidak.

Demikianlah para malaikat penjaga dan pencatat itu menjaga, mengawasi dan mencatat seluruh perbuatan manusia, sampai saat datangnya kematian kepadanya. Dengan datangnya malaikat maut mencabut nyawa manusia untuk melaksanakan perintah Allah sampailah ajal manusia itu, Allah swt berfirman:

۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ١١

Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.” (as-Sajdah/32: 11).

Isi Kandungan Kosakata

1. Mafātiḥul-Gaib مَفَاتِحُ الْغَيْبِ (al-An‘ām/6: 59)

Kata yang terambil dari (ف- ت- ح) artinya berkisar pada satu hal yaitu menghilangkan atau membuka sesuatu yang tertutup (izālatul aglaq) baik berupa sesuatu yang hissy (indrawi, kasat mata) seperti membuka pintu atau yang maknawi (tidak kasat mata) yang bisa diketahui oleh hati atau alam pikiran seperti terbukanya alam pikiran, hilangnya kesusahan, kemenangan dan lain-lainnya.

Kata “mafātiḥ” adalah bentuk jama’ dari miftaḥ atau miftāḥ yang artinya kunci/alat untuk membuka sesuatu (lihat juga an-Nūr/24: 61, al-Qaṣaṣ/28: 76), atau juga bentuk jamak dari maftiḥ artinya gudang atau tempat perbendaharaan (makhzan, khazanah). Dengan demikian maka maksud dari mafātiḥul-gaib artinya kunci-kunci semua yang gaib. Kunci adalah jalan menuju terbukanya gudang yang tertutup rapat. Maka bagi yang memiliki kunci gudang alam gaib berarti dia pasti mengetahui hal-hal yang gaib tersebut. Sedangkan jika yang dimaksud adalah Dia (Allah) memiliki gudang-gudang semua yang ghaib maka artinya bahwa Dia (Allah) jelas memiliki kunci gudang-gudang tersebut dan dapat membukanya.

2. Hafaẓah حَفَظَةْ (al-An‘ām/6: 61)

Kata ḥafaẓah adalah bentuk jamak dari ḥāfiẓ. Kata yang terambilkan dari akar kata (ح- ف- ظ) mempunyai arti memelihara, menjaga, mengawasi. Orang yang hafal Al-Qur’an dijuluki ḥāfiẓ Al-Qur’an, karena orang yang hafal Al-Qur’an berarti telah memelihara hafalannya dengan baik. Menjaga atau memelihara salat (al-Baqarah/2: 238) berarti selalu memperhatikan waktu waktu salat dan selalu mengerjakannya pada waktunya, memperhatikan syarat dan rukunnya. Memelihara farj (al-Mu’minūn/23: 5) berarti menjaganya jangan sampai melakukan perzinaan dan kemaksiatan lainnya. Sedangkan maksud ḥafaẓah dalam ayat ini bisa berarti malaikat yang mengawasi dan mencatat amal manusia baik amalan yang baik maupun yang buruk. Bisa juga berarti malaikat yang selalu memelihara para makhluk. Ada juga yang mengartikan dengan malaikat yang mengurusi rezeki manusia, ajalnya dan amal perbuatannya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto