لِكُلِّ نَبَاٍ مُّسْتَقَرٌّ وَّسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
Likulli naba'im mustaqarruw wa saufa ta‘lamūn(a).
Setiap berita (yang dibawa oleh rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.
Walau penjelasan sudah sedemikian gamblang, boleh jadi masih ada yang tetap mengejek dan mencela apa yang disampaikan Nabi Muhammad tersebut, maka ayat ini secara singkat dan lugas menyatakan bahwa setiap berita yang benar dan dibawa oleh rasul ada tempat dan waktu terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui, kapan dan di mana terjadinya apa yang telah diberitakan itu.
Pada ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa semua berita yang ada dalam Al-Qur’an itu ada waktu terjadinya, pada waktu itu akan diketahui apakah berita itu benar atau dusta, dan waktu itu diketahui betul atau tidaknya, serta diketahui pula hikmah kejadian berita itu.
Berita-berita penting itu ada yang berupa janji dan ada yang berupa ancaman, janji Allah bagi orang yang mengikuti seruan Rasul, pahala yang baik bagi orang-orang yang beramal saleh dan azab yang besar bagi orang-orang yang mengingkari Rasul, semuanya itu akan diperlihatkan Allah.
Allah swt berfirman:
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهٖ مَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِيْ شِقَاقٍۢ بَعِيْدٍ ٥٢ سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ٥٣
Katakanlah, “Bagaimana pendapatmu jika (Al-Qur’an) itu datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh” (dari kebenaran)?” Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fuṣṣilat/41: 52-53)
1. Yunajjīkum يُنَجِّيْكُمْ (al-An‘ām/6: 63)
Bentuk muḍari’ dari najjā. Kata ini terambilkan dari kata “an-najwah” artinya tempat yang tinggi. Jika dikatakan “yunajjī” berarti melemparkan sesuatu ketempat yang tinggi, sehingga terhindar dari banjir dan lainnya. Lalu digunakan untuk perihal penyelamatan dari segala mara bahaya.
2. Yalbisakum Syiya’an يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا (al-An‘ām/6: 65)
Yalbisakum bentuk muḍari’ dari labasa yang artinya mencampurkan, membuat sesuatu menjadi tidak jelas. Jika muḍari’nya yalbasu seperti pada kata talbasūnahā (an-Naḥl/16: 14) maka maḍinya labisa yang artinya memakai dan menutupi. Akar kata dari keduanya adalah (ل- ب- س) yang berarti percampuran atau saling merasuki (mukhalaṭah wa mudakhalah). Pakaian dikatakan libas karena benda itu melekat dan bercampur dengan pemakaianya. Malam juga disebut libās (al-Furqān/25: 47) karena kegelapan malam telah meliputi seseorang seperti juga pakaian. Suami atau isteri juga dikatakan libās (al-Baqarah/2: 187) karena keduanya sudah bercampur atau saling menutupi kejelekan masing-masing. Ketakwaan juga disebut libās (al-A‘rāf/7: 26) karena ketakwaan sangat mempengaruhi pribadinya dari seluruh sisi. Ketakutan dan kelaparan juga disebut libās (an-Naḥl/16: 112) karena keduanya telah meliputi kehidupan orang-orang yang ingkar terhadap Allah.
Sedangkan kata syiya’an adalah jamak dari syi’ah yang artinya sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama. Kata dasarnya adalah (ش- ي- ع) yang mempunyai dua arti. Pertama, saling memperkuat (mu’aḍadah). Kedua, menyebar (al-baṡṡ).
Dari penjelasan di atas maka ungkapan yalbisakum syiya’an berarti “mencampurkan kamu atau memecah belah kamu dalam golongan (yang saling bertentangan).” Bisa juga diartikan “Dia (Allah) menggelapkan urusanmu, akhirnya kemauanmu saling bertentangan, sedangkan kamu terpecah dalam kelompok-kelompok, maka semakin menjadikan kamu bercerai berai.”

















































