Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 25 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 25 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 130 •  Quarter Hizb 13.75 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَ ۚوَجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًا ۗوَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۗحَتّٰٓى اِذَا جَاۤءُوْكَ يُجَادِلُوْنَكَ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ

Wa minhum may yastami‘u ilaik(a), wa ja‘alnā ‘alā qulūbihim akinnatan ay yafqahūhu wa fī āżānihim waqrā(n), wa iy yarau kulla āyatil lā yu'minū bihā, ḥattā iżā jā'ūka yujādilūnaka yaqūlul-lażīna kafarū in hāżā illā asāṭīrul-awwalīn(a).

Di antara mereka ada yang mendengarkan engkau (Nabi Muhammad membaca Al-Qur’an), padahal Kami menjadikan di hati mereka penutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami jadikan) pada telinga mereka penyumbat. Jika mereka melihat segala tanda kebenaran, mereka tetap tidak beriman padanya, sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini (Al-Qur’an) tiada lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.”

Makna Surat Al-An‘am Ayat 25
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat ini menjelaskan sikap orang-orang kafir terhadap Al-Qur'an. Dan di antara mereka, orang kafir dan orang yang menyekutukan Allah, ada yang mendengarkan bacaan Al-Qur'an-mu, wahai Nabi Muhammad, tetapi bacaan itu seperti air di atas daun talas. Mereka sombong, menolak, dan menutup diri rapat-rapat. Oleh sebab itu, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup karena sikap mereka sendiri sehingga mereka tidak memahaminya, dan seakan-akan telinganya tersumbat benda padat. Dan kalaupun mereka, orang-orang kafir dan musyrik, sewaktu-waktu melihat segala tanda kebenaran yang membuktikan Rasulullah itu benar, mereka tetap tidak mau beriman kepadanya karena kesombongan mereka. Sehingga apabila mereka, karena kebencian mereka kepada Rasulullah demikian dahsyat, datang kepadamu untuk membantahmu tentang AlQur'an dan ajaran Islam, orang-orang kafir itu berkata, “Al-Qur'an ini bukan wahyu seperti pengakuan Muhammad, tidak lain Al-Qur'an ini hanyalah dongengan orang-orang terdahulu yang diwariskan dari mulut ke mulut secara berangkai.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Mengenai sebab turun ayat ini, Ibnu ‘Abbās berkata: Pada suatu saat, Abu Sufyān bin Ḥarb, Walīd bin Mugīrah, Naḍar bin al-Ḥāriṡ, ‘Utbah dan Syaibah, keduanya anak Rabī’ah, Umayyah dan Ubay, keduanya anak Khalaf, mendengarkan apa yang disampaikan Rasulullah saw. Mereka bertanya kepada Naḍar, “Wahai Aba Qutailah, apa yang dikatakan Muhammad?” Ia menjawab, “Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, tetapi sungguh aku melihatnya menggerakkan kedua bibirnya berbicara tentang sesuatu, dan apa yang dikatakannya hanyalah kebohongan-kebohongan seperti yang dilakukan orang terdahulu seperti yang pernah aku sampaikan kepada kalian tentang masa lalu.” Naḍar adalah orang yang banyak berbicara tentang masa yang lalu, dan ia berbicara kepada kaum Quraisy dan mereka menikmati apa yang dikatakannya. Maka Allah menurunkan ayat ini.

Ayat ini menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan mereka tidak beriman. Segolongan orang kafir ikut mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak mereka bertauhid. Tetapi bunyi ayat-ayat itu tidak dapat mempengaruhi pendirian mereka, sehingga mereka tetap dalam kekafiran. Mereka tidak dapat memahami dan mengerti ayat Allah ini disebabkan ada tabir yang menutup hati mereka. Mereka tidak dapat mendengar dengan baik ayat-ayat Allah itu seolah-olah ada suatu benda pada telinga mereka yang mengganggu pendengaran mereka sehingga ayat-ayat Allah tidak menyentuh jiwa mereka.

Tabir hati maupun sumbatan pada pendengaran mereka adalah sebenarnya gambaran dari fanatisme yang pekat atau taklid buta dari pihak mereka sendiri, kemudian Allah menjadikannya sebagai penghambat bagi mereka untuk merenungkan dan mempelajari kenyataan-kenyataan itu. Karena taklid buta itu, mereka tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, mereka tidak bersedia mempertimbangkan antara paham yang mereka anut dengan paham orang lain, antara agama mereka dengan agama yang lain.

Setiap kepercayaan yang berlainan dengan apa yang mereka yakini, ditolak tanpa memikirkan mana yang lebih dekat kepada kebenaran, dan yang lebih banyak membawa petunjuk kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bilamana mereka melihat tanda-tanda atau bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran kerasulan Muhammad, mereka tidak mempercayainya, bahkan menuduhnya sebagai sihir disebabkan fanatisme yang pekat dan didorong oleh rasa permusuhan yang mendalam. Mereka tidak dapat lagi menanggapi maksud dari ayat-ayat Al-Qur’an dan tanggapan mereka terbatas pada kata-kata lahir dari ayat-ayat itu.

Demikian kosongnya hati mereka dalam menanggapi ayat-ayat ini sehingga bilamana mereka datang menemui Nabi Muhammad untuk membantah dakwah beliau, mereka mengatakan ayat-ayat Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang zaman dahulu. Padahal dalam Al-Qur’an itu banyak berita-berita tentang yang gaib, hukum-hukum, ajaran-ajaran akhlak, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya yang sampai akhir zaman tetap mempunyai nilai yang tinggi. Tetapi kesemuanya itu dipandang oleh orang-orang musyrik itu sama dengan dongeng dan tahayul orang zaman dahulu yang tak memberi bimbingan hidup kepada manusia. Hal ini menunjukkan kegelapan hati dan pikiran mereka. Sekiranya mereka mau merenungkan kisah dalam Al-Qur’an yang menerangkan pelajaran sejarah manusia, hukum sebab akibat yang berlaku pada umat-umat yang lalu itu, tentulah mereka tidak akan berkata demikian itu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Akinnah wa waqr اَكِنَّةً وَ وَقْرًا (al-An‘ām/6: 25)

Akinnah bentuk jamak dari kinan yaitu wadah yang bisa mengumpulkan sesuatu (al-wi’ā’ al-jami’), atau penutup (al-giṭa’ as-satir). Yang ditutupi bisa berupa benda atau sesuatu yang terlihat dalam diri seseorang. Untuk pertama dipakai ungkapan kanantu (ṡulaṡi) yang kedua dipakai Aknantu (ruba’i) seperti kata kitab maknun artinya kitab yang terpelihara karena berada pada tempat yang tertutup, tidak bisa dijamah oleh siapapun kecuali para malaikat yang suci. Waqr arti kata ini kembali kepada dua hal yaitu berat dan keteguhan atau ketenangan. Rajulun waqur artinya lelaki yang tenang, terhormat dan berwibawa. Al-Wiqr adalah muatan pada punggung keledai dan begal atau juga unta. Arti yang pertama (berat) inilah yang tepat untuk ayat di atas. Jika dikaitkan dengan telinga, maka telinga ini berat ntuk mendengarkan sesuatu.

2. Farraṭnā فَرَّطْنَا (al-An‘ām/6: 31)

Kata yang berasal dari (ف- ر- ط) berarti menghilangkan atau menyingkirkan sesuatu dari tempatnya. Ifraṭ ialah hal melampaui batas. Karena melampaui batas berarti menyingkirkannya dari arah tujuan semula. Tafrīṭ berarti lalai, lengah atau gegabah, yaitu tidak mengerjakan sesuatu padahal dia bisa melakukannya. Lalai berarti tidak melakukan sesuatu yang semestinya dikerjakan.

3. Awzārahum اَوْزَارَهُمْ (al-An‘ām /6:31)

Akar katanya (و- ز- ر) mempunyai dua arti yaitu tempat berlindung atau pelarian (malja’) di gunung (lihat: al-Qiyamah/75: 11) dan berat (aṡ-ṡiqal fisy-syai’). Al-Wizr ialah bawaan seseorang berupa kain yang diisi barang-barang. Dari sini lalu muncul kata al-wizr yang berarti dosa, karena bebannya yang berat. Jamaknya awzār. Al-Wazīr atau menteri karena tanggung jawabnya yang berat.

4. Al-La’b- Al-Lahw اَللَّعْبُ - اَللَّهْوُ(al-An ām/6: 32)

Al-La’b terambil dari kata al-lu’ab yaitu air liur atau ludah yang keluar dari mulut anak kecil. Biasanya keluar tanpa sengaja. Dari sini kata al-la’b diartikan dengan pekerjaan yang tidak diniatkan untuk tujuan yang benar. atau sesuatu yang melengahkan seseorang dari hal yang bermanfaat baginya. Al-Lahw, hal yang membelokkan seseorang dari kesungguhan ke senda gurau, kelakar, dan main-main.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto