Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 106 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 106 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 141 •  Quarter Hizb 14.75 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

اِتَّبِعْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

Ittabi‘ mā ūḥiya ilaika mir rabbik(a), lā ilāha illā huw(a), wa a‘riḍ ‘anil-musyrikīn(a).

Ikutilah apa (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) dari Tuhanmu. Tidak ada tuhan selain Dia. Berpalinglah pula dari orang-orang musyrik.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 106
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh luar biasa wahyu dari Allah, sehingga kaum musyrik pun menuduh Nabi mengambilnya dari sumber lain. Maka wajar kalau Allah memerintahkan kepada Nabi dan kaum mukmin untuk mengikuti wahyu-Nya. Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu, wahai Nabi Muhammad, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik, yakni dengan cara tidak mempedulikan gangguan dari mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah memerintahkan kepada Nabi saw serta para pengikutnya agar dalam waktu menyampaikan dakwah Islamiyah, tetap berpegang pada wahyu, karena wahyu itulah yang dapat dijadikan tuntunan untuk dirinya dan kaumnya. Tujuan dari dakwah itu ialah untuk menyampaikan kalimat tauhid yaitu pengakuan secara mutlak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia.

Kalimat tauhid itu harus diresapi dengan hati yang ikhlas, serta diamalkan dengan penuh keyakinan dan dijadikan tujuan tertinggi dari kehidupan manusia Allah memberikan penegasan kepada Nabi dan kaumnya agar berpaling dari perbuatan-perbuatan orang-orang musyrik dan tidak perlu memaksa orang-orang yang tetap bergelimang dalam kemusyrikan serta tidak mengacuhkan ajakan tauhid, dan tidak berkecil hati karena tuduhan-tuduhan yang diarahkan orang-orang musyrik yaitu bahwa wahyu yang disampaikan Nabi adalah dipelajari dari orang-orang Yahudi, karena kebenaran itu cahayanya cemerlang dengan sendirinya apabila diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam bentuk amal perbuatan, sedangkan kebatilan meskipun diselubungi dengan berbagai hal yang menarik, namun akhirnya akan terungkap juga kebusukannya.

Isi Kandungan Kosakata

Lā tasubbū لاَ تَسُبُّوْا(al-An ām/6 : 108)

Kata tasubbū adalah fi’l muḍari’ yang ditujukan kepada orang kedua tunggal. Kata tersebut dari sabba - yasubbu - sabb(an), yang artinya “mencaci,” atau “mencela.” Sesuatu dicaci atau dicela karena padanya terdapat kelemahan. Kata lā tasubbū yang artinya “janganlah kamu mencaci” atau mencela merupakan bentuk larangan Allah yang ditujukan kepada orang-orang beriman (kaum Muslimin) agar mereka tidak mencaci tuhan-tuhan orang musyrik. Menurut Imam Abu al-Faraj al-Jauziy (508–597 H), larangan dalam ayat ini adalah demi tark al-maṣlaḥah li dar’ al-mafsadah (meninggalkan suatu maslahat untuk menolak terjadinya mafsadat). Maksudnya, larangan Allah tersebut untuk menghindari aksi serupa yang dilakukan orang musyrik, dalam bentuk mencaci Allah swt, Tuhan kaum Muslimin. Jika kaum Muslim mencaci tuhan-tuhan orang musyrik, berarti mereka mencaci atau mencela Tuhan mereka sendiri, karena celaan mereka terhadap tuhan-tuhan kaum musyrik menyebabkan kaum musyrik itu berbalik mencela atau mencaci Allah, Tuhan kaum Muslimin. Oleh karena itu mencela tuhan dari umat tertentu di luar Islam dilarang.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto