Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 103 - Surat Al-An‘ām (Binatang Ternak)
الانعام
Ayat 103 / 165 •  Surat 6 / 114 •  Halaman 141 •  Quarter Hizb 14.75 •  Juz 7 •  Manzil 2 • Makkiyah

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

Lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār(a), wa huwal-laṭīful-khabīr(u).

Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu. Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Teliti.

Makna Surat Al-An‘am Ayat 103
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Untuk lebih menguatkan uraian sifat-sifat Allah seperti yang disebut sebelumnya, Allah lalu menyatakan bahwa Dia tidak dapat dicapai dalam bentuk apa pun oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat menjangkau dan melihat dengan sejelas-jelasnya segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus sehingga tidak dapat dilihat oleh makhluk, lagi Mahateliti sehingga dapat melihat segala sesuatu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menjelaskan hakikat dan keagungan diri-Nya sebagai penegasan dari sifat-sifat-Nya yang telah dijelaskan pada ayat yang baru lalu, yaitu bahwa Allah di atas segala-galanya. Zat-Nya Yang Agung itu tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, karena indera manusia itu memang diciptakan dalam susunan yang tidak siap untuk melihat zat-Nya. Sebabnya tidak lain karena manusia itu diciptakan dari materi, dan inderanya hanya menangkap materi-materi belaka dengan perantaraan materi pula; sedangkan Allah bukanlah materi. Maka wajarlah apabila Dia tidak dapat dijangkau oleh indera manusia.

Yang dimaksud dengan Allah tidak dapat dijangkau dengan indera manusia, ialah selama manusia masih hidup di dunia. Sedangkan pada hari Kiamat, orang-orang beriman akan dapat melihat Allah.

Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّكُم سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَكَمَا تَرَوْنَ الشَّمْسَ لَيْسَ دُوْنَهَا سَحَابٌ (رواه البخاري عن جرير، صحيح البخاري 4، 283)

Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu di hari Kiamat seperti kamu melihat bulan di malam bulan purnama, dan seperti kamu melihat matahari di kala langit tidak berawan.” (Riwayat al-Bukhārī dan Jarīr, Ṣaḥiḥ al-Bukhārī IV: 283).

Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ ٢٢ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ ٢٣

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya. (al-Qiyāmah/75: 22-23)

Kemungkinan melihat Tuhan di hari Kiamat, khusus bagi orang-orang mukmin sedangkan orang-orang kafir kemungkinan melihat Allah tertutup bagi mereka.

Allah berfirman:

كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُو ْنَۗ ١٥

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. (al-Muṭaffifīn/83: 15).

Allah menegaskan bahwa Dia dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, dan baṣīrah (penglihatan)-Nya dapat menembus seluruh yang ada, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, baik bentuk maupun hakikat-Nya.

Di akhir ayat ini Allah menegaskan lagi bahwa Zat-Nya Mahahalus, tidak mungkin dijangkau oleh indera manusia apalagi hakikat-Nya dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun halusnya, tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Kharaqū خَرَقُوْا(al-An‘ m/6: 100)

Artinya mereka telah berbohong atau melakukan kebohongan. Kata dasarnya adalah ( خ- ر- ق ) yang berarti memotong sesuatu dengan tujuan merusak tanpa dipikir terlebih dahulu. Hal ini berbeda dengan kata (خ- ل- ق) yang menunjukkan arti melakukan sesuatu dengan perkiraan yang cermat, pelan-pelan, dengan tujuan baik. Ungkapan kharaqa aṡ-ṡauba artinya dia merobek pakaian. Pekerjaan merobek adalah pekerjaan yang tidak beraturan. Dari arti kata dasar ini maka muncul arti kebohongan, karena kaum musyrik melakukan sesuatu yang bersifat merusak tentang akidah terhadap Allah seperti perkataan mereka, “Allah mempunyai anak lelaki dan perempuan.”

2. Badī’ بَدِيعُ(al-An‘ām/6 : 101)

Akar katanya (ب- د- ع) artinya berkisar pada dua hal yaitu pertama, membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Kedua, keterputusan atau ketumpulan, keletihan, dan lesu. Kata bid’ah juga mempunyai arti semisal yaitu suatu perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya dari Nabi Muhammad. Allah menciptakan langit dan bumi tanpa meniru dan mencontoh yang lain.

3. Darasta دَرَسْتَ(al-An‘ām /6: 105)

Pada kalimat ini ada tiga bacaan, yaitu darasta, dārasta dan darasat. Bacaan pertama berarti kamu telah mempelajari (Al-Qur’an dari orang lain). Bacaan kedua berarti kamu saling mengajarkan. Artinya kamu membacakan kepada ahli kitab dan mereka membacakannya kepada kamu. Bacaan ketiga berarti berita-berita yang telah kamu (Muhammad) bacakan kepada kami telah kuno sehingga telah hilang dari peredaran dan sirna. Arti umum dari kata (د- ر- س) ialah melakukan sesuatu berulangkali sehingga hal tersebut menjadi hilang/sirna atau mencapai puncaknya. Pakaian yang dipakai terus menerus lalu rusak disebut daris. Ungkapan darasa al-kitab artinya dia membacanya berulang kali sehingga membekas di otak dan dihapal.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto