فَلَمَّآ اَحَسُّوْا بَأْسَنَآ اِذَا هُمْ مِّنْهَا يَرْكُضُوْنَ ۗ
Falammā aḥassū ba'sanā iżā hum minhā yarkuḍūn(a).
Maka, ketika mereka menyadari (dekatnya) azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri darinya (negeri itu).
Maka ketika mereka, penduduk negeri yang zalim tersebut, melihat dan merasakan azab Kami yang ditimpakan kepada mereka, tiba-tiba mereka berusaha melarikan diri dari negerinya itu karena ketakutan dan hendak menyelamatkan diri, tetapi mereka tetap binasa.
Pada ayat ini Allah menjelaskan bagaimana keadaan kaum kafir pada waktu terjadinya malapetaka tersebut, setelah mereka yakin bahwa azab Allah pasti akan menimpa diri mereka sebagaimana yang telah diperingatkan oleh para nabi dan rasul, maka mereka lari dalam keadaan tunggang langgang, padahal dahulunya mereka dengan penuh kesombongan berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami ini, atau kamu akan kembali kepada agama kami.” Sekarang sebaliknya merekalah yang terpaksa meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka, melarikan diri dari azab Allah.
1. Qaṣamnā قَصَمْنَا (al-Anbiyā’/21: 11)
Kata dasarnya adalah qaṣama artinya “memecah,” “menghancurkan”. Dalam al-Anbiyā’/21:11 ini Allah menegaskan bahwa banyak sudah negeri-negeri yang telah Allah hancurkan karena dosa-dosa mereka dan kemudian Allah munculkan setelah itu generasi-generasi baru. Hal itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kafir Quraisy. Mereka tidak akan dihancurkan di dunia ini, dan itu sudah menjadi janji-Nya. Tetapi di akhirat mereka pasti menemukan hukuman Allah.
2. Ḥaṣīdan Khāmidīn حَصِيْدًا خَامِدِيْنَ (al-Anbiyā’/21:15)
ḥa īd terambil dari kata ḥaṣada yang berarti memotong tanaman. Al-ḥiṣād berarti telah datang masa untuk memanen (al-An‘ām/6:141). Sedangkan lafal khāmidīn adalah bentuk jamak dari lafal khāmid yang terambil dari kata khamada berarti padam seperti pernyataan khamadat an-nār (api telah padam). Khamada juga digunakan untuk mengibaratkan sesuatu yang telah mati dan hancur, seperti firman Allah dalam Surah Yāsīn/36 :29 “Fa’iżā hum khāmidūn” (dengan satu teriakan saja, tiba-tiba mereka semuanya mati). Penafsiran lafal ini adalah ketika orang zalim merasakan azab Allah, mereka berlari dengan tergesa-gesa, sambil berucap, “Sungguh celaka kami, sesungguhnya kami termasuk orang-orang zalim.” Tetapi Allah tidak mengindahkan keluh kesah mereka, malah Allah menjadikan mereka seperti tanaman yang telah dituai yang tidak dapat hidup lagi.





















