وَالَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهَا مِنْ رُّوْحِنَا وَجَعَلْنٰهَا وَابْنَهَآ اٰيَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Wal-latī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhā mir rūḥinā wa ja‘alnāhā wabnahā āyatal lil-‘ālamīn(a).
(Ingatlah pula Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)-nya. Kami menjadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Kami) bagi seluruh alam.
Dan ingatlah kisah Maryam, seorang perempuan salehah, yang memelihara kehormatannya dari berbuat zina, bahkan dari sentuhan laki-laki. Lalu Kami tiupkan roh dari Kami ke dalam rahim-nya sehingga ia hamil; dan Kami jadikan dia dan anaknya sejak lahir sebagai tanda kebesaran Allah bagi seluruh alam, karena anak itu lahir tanpa ayah, bisa berbicara sejak bayi dan menyatakan dirinya hamba Allah, serta menjadi nabi dan rasul Allah.
Pada ayat ini Allah menerangkan kisah Maryam secara ringkas, yaitu bahwa dia adalah seorang perempuan yang memelihara kehormatan dirinya, maka suatu ketika Allah mengutus malaikat Jibril untuk memberitahukan Maryam bahwa Allah meniupkan ruh ke dalam tubuh Maryam sehingga ia mengandung, kemudian Maryam melahirkan Isa a.s tanpa ayah. Oleh karena Isa lahir tanpa ayah, maka Maryam dan Isa lalu menjadi salah satu bukti bagi seluruh isi alam ini, tentang kekuasaan dan kemahaesaan Allah. Kelahiran Isa mengandung bukti dan tanda kekuasaan Allah sebagaimana halnya Nabi Adam yang lahir ke dunia tanpa ayah dan ibu, sedang Isa lahir tanpa ayah saja.
Hal yang membuat heran adalah karena Maryam belum pernah mengadakan hubungan apa pun dengan kaum lelaki, baik secara halal melalui perkawinan, apalagi secara tidak halal. Allah menyebutkan ucapan Maryam mengenai dirinya sendiri sebagai berikut:
لَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا
Tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (Maryam/19: 20)
Firman Allah dalam ayat lain;
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا
Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya. (at-Taḥrīm/66: 12)
Keheranan Maryam yang disampaikan kepada Malaikat Jibril dijawab degan firman Allah:
قَالَ كَذٰلِكِۚ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌۚ
Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku. (Maryam/19: 21)
Tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada diri Maryam ialah bahwa dia hamil tanpa melalui hubungan kelamin dengan siapa pun, dan malaikat senantiasa menyediakan makanan untuknya.
Mengenai hal ini Al-Qur’an menceritakan pertanyaan Zakaria kepada Maryam dan jawaban Maryam kepadanya:
يٰمَرْيَ مُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ
“Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” (Āli ‘Imrān/3: 37)
Adapun tanda-tanda kebesaran dan kemahakuasaan Allah yang terlihat melalui diri Isa a.s, sudah diterangkan dengan panjang lebar dalam Surah Āli ‘Imrān dan Surah Maryam.
1. Fardan فَرْدًا (al-Anbiyā’/21: 89)
Fardan merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja farada-yafrudu, yang artinya menyendiri. Dengan demikian fardan dapat diartikan sebagai dalam kesendirian. Dalam ayat ini kata tersebut dipergunakan untuk mengungkapkan permohonan Nabi Zakaria yang tidak ingin berada dalam kesendirian tanpa anak yang akan mewarisi tugas-tugasnya dalam menyeru umatnya. Karena itulah, Nabi Zakaria selalu berdoa agar ia dikaruniai anak, sehingga perjuangannya dalam berdakwah tidak dilakukan sendirian.
2. Ragaban wa Rahaban رَغَبًا وَرَهَبًا (al-Anbiyā’/21: 90)
Ungkapan ragaban wa rahaban terdiri dari dua kata, yaitu ragaban dan rahaban. Yang pertama (ragaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja ragiba-yargabu, yang artinya menginginkan dan menyenangi. Dengan demikian ragaban dapat diartikan sebagai keinginan dan kesenangan. Sedang yang kedua (rahaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja rahiba-yarhabu, yang artinya takut. Dengan demikian, rahaban diartikan sebagai ketakutan, yaitu takut pada sesuatu yang diagungkan, sehingga muncul ketundukan dan kepatuhan. Dari kata ini muncul pula istilah rahib, yaitu seseorang yang menekuni kehidupan beragama, dan selalu tunduk dan patuh pada ajaran- ajaran agama.
Ungkapan ragaban wa rahaban dalam ayat dipergunakan untuk menunjukkan ketekunan Nabi Zakaria dalam berdoa dengan penuh harap akan rahmat Allah dan haus kasih sayang.













































