فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ
Fastajabnā lah(ū), wa wahabnā lahū yaḥyā wa aṣlaḥnā lahū zaujah(ū), innahum kānū yusāri‘ūna fil-khairāti wa yad‘ūnanā ragabaw wa rahabā(n), wa kānū lanā khāsyi‘īn(a).
Maka, Kami mengabulkan (doa)-nya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
Karena Zakaria terus berusaha dan tekun berdoa memohon keturunan, maka Kami kabulkan doa-nya, meskipun istrinya sudah tua dan mandul. Dan Kami pun menganugerahkan kepadanya Yahya, seorang anak yang cerdas dan saleh; dan Kami jadikan istrinya yang tua dan mandul itu dapat mengandung. Sungguh, mereka, Zakaria dan istrinya, senantiasa bersegera dalam mengerjakan berbagai kebaikan yang menyebabkan doanya dikabulkan; dan mereka senantiasa berdoa kepada Kami untuk mendapatkan keturunan dengan penuh harap akan dikabulkan dan cemas karena menyadari istrinya tua dan mandul. Dan mereka orang-orang yang khusyuk, dalam beribadah dan berdoa kepada Kami.
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah memperkenankan doa Nabi Zakaria itu, dan mengaruniakan kepadanya seorang putra bernama Yahya. Untuk itu Allah telah mengaruniakan kesehatan yang baik kepada istri Zakaria, sehingga memungkinkan untuk mengandung, padahal sebelum itu ia adalah perempuan yang mandul.
Pada lanjutan ayat ini Allah menjelaskan apa alasan-Nya untuk mengabulkan permohonan Zakaria itu, ialah karena mereka semua senantiasa bersegera dalam berbuat kebajikan, terutama dalam memelihara keturunan dengan sebaik-baiknya. Selain itu juga, karena senantiasa berdoa kepada Allah dengan hati yang harap-harap cemas, harap akan ampunan Tuhan dan cemas terhadap kemurkaan dan siksaan Allah. Dan alasan ketiga ialah karena mereka selalu khusyuk dan tawadu’ kepada-Nya, dan tidak pernah sombong atau takabur dan mengingkari karunia-Nya.
Jadi, sifat-sifat yang mulia itulah yang menyebabkan mereka memperoleh karunia dari Allah.
1. Fardan فَرْدًا (al-Anbiyā’/21: 89)
Fardan merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja farada-yafrudu, yang artinya menyendiri. Dengan demikian fardan dapat diartikan sebagai dalam kesendirian. Dalam ayat ini kata tersebut dipergunakan untuk mengungkapkan permohonan Nabi Zakaria yang tidak ingin berada dalam kesendirian tanpa anak yang akan mewarisi tugas-tugasnya dalam menyeru umatnya. Karena itulah, Nabi Zakaria selalu berdoa agar ia dikaruniai anak, sehingga perjuangannya dalam berdakwah tidak dilakukan sendirian.
2. Ragaban wa Rahaban رَغَبًا وَرَهَبًا (al-Anbiyā’/21: 90)
Ungkapan ragaban wa rahaban terdiri dari dua kata, yaitu ragaban dan rahaban. Yang pertama (ragaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja ragiba-yargabu, yang artinya menginginkan dan menyenangi. Dengan demikian ragaban dapat diartikan sebagai keinginan dan kesenangan. Sedang yang kedua (rahaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja rahiba-yarhabu, yang artinya takut. Dengan demikian, rahaban diartikan sebagai ketakutan, yaitu takut pada sesuatu yang diagungkan, sehingga muncul ketundukan dan kepatuhan. Dari kata ini muncul pula istilah rahib, yaitu seseorang yang menekuni kehidupan beragama, dan selalu tunduk dan patuh pada ajaran- ajaran agama.
Ungkapan ragaban wa rahaban dalam ayat dipergunakan untuk menunjukkan ketekunan Nabi Zakaria dalam berdoa dengan penuh harap akan rahmat Allah dan haus kasih sayang.








































