وَزَكَرِيَّآ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ ۚ
Wa zakariyyā iż nādā rabbahū rabbi lā tażarnī fardaw wa anta khairul-wāriṡīn(a).
(Ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), sedang Engkau adalah sebaik-baik waris.494)
Dan ingatlah kisah Zakaria, seorang rasul yang terus berusaha dan berdoa agar diberi keturunan, ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan khusyuk, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri tanpa keturunan yang akan melanjutkan tugasku membimbing umat; dan aku yakin, sekiranya Engkau tidak memberikan keturunan kepadaku, Engkaulah ahli waris yang terbaik yang akan memelihara agama ini setelah aku wafat.
Pada ayat ini Allah mengarahkan perhatian Nabi Muhammad saw dan umatnya kepada kisah Nabi Zakaria. Karena ia tidak mempunyai anak, maka ia merasa kesepian dan tidak mempunyai seorang pun keturunan yang akan menggantikan dan melanjutkan perjuangannya bila ia telah meninggal dunia. Sebab itu ia berdoa kepada Allah agar Dia tidak membiarkannya hidup tanpa keturunan.
Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Nabi Zakaria setelah ia mengucapkan doanya itu. Lalu ia berkata, “Dan Engkau adalah ahli waris yang paling baik?” Maksudnya ialah bahwa apabila Allah menghendaki tidak akan menganugerahkan keturunan kepadanya, maka ia pun rela dan tidak berkecil hati, karena ia yakin bahwa Allah akan tetap memelihara agamanya, dan tidak akan menyia-nyiakan agamanya dan Allah tentu akan memilih orang yang paling tepat sebagai pengganti Zakaria setelah wafatnya.
Kisah ini telah dibahas lebih luas dalam Surah Āli ‘Imrān dan Surah Maryam.
1. Fardan فَرْدًا (al-Anbiyā’/21: 89)
Fardan merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja farada-yafrudu, yang artinya menyendiri. Dengan demikian fardan dapat diartikan sebagai dalam kesendirian. Dalam ayat ini kata tersebut dipergunakan untuk mengungkapkan permohonan Nabi Zakaria yang tidak ingin berada dalam kesendirian tanpa anak yang akan mewarisi tugas-tugasnya dalam menyeru umatnya. Karena itulah, Nabi Zakaria selalu berdoa agar ia dikaruniai anak, sehingga perjuangannya dalam berdakwah tidak dilakukan sendirian.
2. Ragaban wa Rahaban رَغَبًا وَرَهَبًا (al-Anbiyā’/21: 90)
Ungkapan ragaban wa rahaban terdiri dari dua kata, yaitu ragaban dan rahaban. Yang pertama (ragaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja ragiba-yargabu, yang artinya menginginkan dan menyenangi. Dengan demikian ragaban dapat diartikan sebagai keinginan dan kesenangan. Sedang yang kedua (rahaban) merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja rahiba-yarhabu, yang artinya takut. Dengan demikian, rahaban diartikan sebagai ketakutan, yaitu takut pada sesuatu yang diagungkan, sehingga muncul ketundukan dan kepatuhan. Dari kata ini muncul pula istilah rahib, yaitu seseorang yang menekuni kehidupan beragama, dan selalu tunduk dan patuh pada ajaran- ajaran agama.
Ungkapan ragaban wa rahaban dalam ayat dipergunakan untuk menunjukkan ketekunan Nabi Zakaria dalam berdoa dengan penuh harap akan rahmat Allah dan haus kasih sayang.
















































