Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 35 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 35 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 324 •  Quarter Hizb 33.25 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Kullu nafsin żā'iqatul-maut(i), wa nablūkum bisy-syarri wal-khairi fitnah(tan), wa ilainā turja‘ūn(a).

Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 35
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Karena hidup manusia di dunia tidak kekal, maka ketetapan Allah berlaku bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Allah kemudian menetapkan garis bahwa hidup adalah ujian. Kami akan menguji kamu dengan dua macam ujian, keburukan dan kebaikan, sebagai cobaan untuk mengukur kualitas iman dan kesabaran manusia. Dan kamu, seluruh manusia, akan dikembalikan hanya kepada Kami untuk mempertanggungjawabkan hidup di dunia dan mendapatkan hasilnya, keridaan Allah atau murka-Nya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah menyatakan lebih tegas lagi, bahwa setiap mahluk-Nya yang hidup atau bernyawa pasti akan merasakan mati. Tidak satu pun yang kekal, kecuali dia sendiri, dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Se gala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (al-Qaṣaṣ/28: 88)

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan cobaan yang ditimpakan Allah kepada manusia tidak hanya berupa hal-hal yang buruk, atau musibah yang tidak disenangi, bahkan juga ujian tersebut dapat pula berupa kebaikan atau keberuntungan. Apabila ujian atau cobaan itu berupa musibah, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap dan keimanan manusia, apakah ia sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan itu. Dan apabila cobaan itu berupa suatu kebaikan, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap mental manusia, apakah ia mau bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Jika seseorang bersikap sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan atau musibah, serta bersyukur kepada-Nya dalam menerima suatu kebaikan dan keberuntungan, maka dia adalah termasuk orang yang memperoleh kemenangan dan iman yang kuat serta mendapat keridaan-Nya. Sebaliknya, bila keluh kesah dan rusak imannya dalam menerima cobaan Allah, atau lupa daratan ketika menerima rahmat-Nya sehingga ia tidak bersyukur kepada-Nya, maka orang tersebut adalah termasuk golongan manusia yang merugi dan jauh dari rida Allah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman-Nya pada ayat lain:

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ١٩ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ٢٠ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ٢١ اِلَّا الْمُصَلِّيْنَ ۙ ٢٢

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma’ārij/70: 19-22)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa bagaimana pun juga tingkah laku manusia dalam menghadapi cobaan atau dalam menerima rahmat-Nya, namun akhirnya segala persoalan kembali kepada-Nya juga. Dialah yang memberikan balasan, baik pahala maupun siksa, atau memberikan ampunan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Khuld اَلْخُلْد (al-Anbiyā’/21:34)

Al-Kh uld adalah bentuk maṣdar dari lafal khalada-yakhludu yang berarti kekal dan abadi, tidak mengalami kerusakan dan tetap seperti apa adanya. Orang Arab menyifati sesuatu yang lambat berubah dan rusak dengan sebutan khulūd. Al-Khaldu adalah nama untuk sebuah bagian/organ yang ada pada manusia yang tetap keadaannya. Rajul mukhallad berarti seseorang yang memiliki hidup panjang dan tidak beruban. Lafal khuld dalam Al-Qur’an sering diungkapkan pada sifat surga dan neraka berikut penghuninya berarti bahwa kehidupan di surga dan neraka mengalami kekekalan. “Ulā’ika aṣḥābul jannati hum fīhā khālidūn, Ulā’ika aṣḥābun nāri hum fīhā khālidūn”. Dalam ayat di atas, dijelaskan mengenai bantahan Allah bahwa Dia tidak pernah menjadikan seorang manusia, siapa pun itu, baik Nabi Muhammad atau manusia sebelumnya hidup dalam keabadian. Karena setiap yang berjiwa pasti akan mengalami kematian (al-Anbiyā/21: 35)

2. Huzuwan هُزُوًا (al-Anbiyā’/21:36).

Huzu w berasal dari akar kata haza’a yang berarti bercanda dengan cara sembunyi-sembunyi, (al-Mā’idah/5:58). Kemudian arti ini meluas menjadi ejekan, cemoohan dan olok-olok. Istihzā’ dari Allah pada hakikatnya tidaklah pantas sebagaimana sifat al-lahw dan al-la‘b. Oleh karena itu istihzā’ dari Allah diartikan dengan membalas mereka dengan balasan yang sama. Seperti Allah memberikan jeda kepada orang kafir, kemudian Allah timpakan kepada kaum kafir azab yang pedih. Jeda tersebut disebut dengan istihzā’ atau istidrāj. Ayat ini menerangkan tentang kebiasaan orang-orang kafir ketika melihat orang-orang mukmin, menjadikannya sebagai bahan cemoohan dan olok-olok. Padahal sebenarnya merekalah yang pantas untuk dicemooh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto