Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 34 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 34 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 324 •  Quarter Hizb 33.25 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَۗ اَفَا۟ىِٕنْ مِّتَّ فَهُمُ الْخٰلِدُوْنَ

Wa mā ja‘alnā libasyarim min qablikal-khuld(a), afa'im mitta fahumul-khālidūn(a).

Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelum engkau (Nabi Muhammad). Maka, jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 34
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai manusia sama dengan manusia lainnya, tidak akan kekal hidup di dunia. Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi sebagai suatu sunatullah bagi seorang manusia sebelum engkau Muhammad, siapa, dan bagaimana pun dia. Maka jika engkau wafat, apakah mereka, yang hidup sezaman dengan engkau atau yang hidup di zaman modern, akan kekal?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menegaskan bahwa Muhammad sebagai manusia adalah sama halnya dengan manusia lainnya, yaitu bahwa ia tidak akan kekal hidup di dunia ini. Allah belum pernah memberikan kehidupan duniawi yang kekal kepada siapa pun sebelum lahirnya Nabi Muhammad. Walaupun dia adalah Nabi dan Rasul-Nya, namun ia pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini apabila ajalnya sudah datang. Dan mereka pun demikian pula, tidak akan kekal di dunia ini selama-lamanya. Inilah salah satu segi dari keadilan Allah terhadap semua mahluk-Nya, dan merupakan Sunnah-Nya yang berlaku sepanjang masa.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.... (Āli ‘Imrān/3: 144)

Maka ayat ini menyatakan lebih tegas, bahwa Nabi Muhammad akan meninggalkan dunia yang fana ini, sebagaimana halnya rasul-rasul yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi, walaupun ia suatu ketika meninggal dunia, namun agama Islam yang telah dikembangkannnya akan tetap ada dan semakin berkembang, karena Allah telah memberikan jaminan untuk kemenangannya. Sebab itu adalah sangat keliru, bila kaum musyrikin mengharapkan bahwa dengan wafatnya Nabi Muhammad maka agama Islam akan terhenti perkembangannya, dan dakwah Islamiah akan mereda. Kenyataan sejarah kemudian menunjukkan bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad dakwah Islamiah berjalan terus sehingga agama Islam berkembang jauh melampaui batas-batas jazirah Arab, baik ke Timur, Utara, maupun ke Barat dan Selatan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Khuld اَلْخُلْد (al-Anbiyā’/21:34)

Al-Kh uld adalah bentuk maṣdar dari lafal khalada-yakhludu yang berarti kekal dan abadi, tidak mengalami kerusakan dan tetap seperti apa adanya. Orang Arab menyifati sesuatu yang lambat berubah dan rusak dengan sebutan khulūd. Al-Khaldu adalah nama untuk sebuah bagian/organ yang ada pada manusia yang tetap keadaannya. Rajul mukhallad berarti seseorang yang memiliki hidup panjang dan tidak beruban. Lafal khuld dalam Al-Qur’an sering diungkapkan pada sifat surga dan neraka berikut penghuninya berarti bahwa kehidupan di surga dan neraka mengalami kekekalan. “Ulā’ika aṣḥābul jannati hum fīhā khālidūn, Ulā’ika aṣḥābun nāri hum fīhā khālidūn”. Dalam ayat di atas, dijelaskan mengenai bantahan Allah bahwa Dia tidak pernah menjadikan seorang manusia, siapa pun itu, baik Nabi Muhammad atau manusia sebelumnya hidup dalam keabadian. Karena setiap yang berjiwa pasti akan mengalami kematian (al-Anbiyā/21: 35)

2. Huzuwan هُزُوًا (al-Anbiyā’/21:36).

Huzu w berasal dari akar kata haza’a yang berarti bercanda dengan cara sembunyi-sembunyi, (al-Mā’idah/5:58). Kemudian arti ini meluas menjadi ejekan, cemoohan dan olok-olok. Istihzā’ dari Allah pada hakikatnya tidaklah pantas sebagaimana sifat al-lahw dan al-la‘b. Oleh karena itu istihzā’ dari Allah diartikan dengan membalas mereka dengan balasan yang sama. Seperti Allah memberikan jeda kepada orang kafir, kemudian Allah timpakan kepada kaum kafir azab yang pedih. Jeda tersebut disebut dengan istihzā’ atau istidrāj. Ayat ini menerangkan tentang kebiasaan orang-orang kafir ketika melihat orang-orang mukmin, menjadikannya sebagai bahan cemoohan dan olok-olok. Padahal sebenarnya merekalah yang pantas untuk dicemooh.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto