Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 74 - Surat Al-Anbiyā' (Para Nabi)
الانبياۤء
Ayat 74 / 112 •  Surat 21 / 114 •  Halaman 328 •  Quarter Hizb 33.5 •  Juz 17 •  Manzil 4 • Makkiyah

وَلُوْطًا اٰتَيْنٰهُ حُكْمًا وَّعِلْمًا وَّنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِيْ كَانَتْ تَّعْمَلُ الْخَبٰۤىِٕثَ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمَ سَوْءٍ فٰسِقِيْنَۙ

Wa lūṭan ātaināhu ḥumkaw wa ‘ilmaw wa najjaināhu minal-qaryatil-latī kānat ta‘malul-khabā'iṡ(a), innahum kānū qauma sau'in fāsiqīn(a).

Kepada Lut, Kami menganugerahkan hikmah serta ilmu dan Kami menyelamatkannya dari (azab yang telah menimpa penduduk) negeri (Sodom) yang melakukan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.

Makna Surat Al-Anbiya' Ayat 74
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan kepada Lut, yang berdomisili di Sodom, Palestina, Kami berikan hikmah dan kearifan dalam memutuskan perkara dan menetapkan hukuman, dan ilmu yang bermanfaat dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah dan kewajiban kepada sesama manusia. Dan Kami pun telah menyelamatkan dia dari azab yang menimpa penduduk kota Sodom dan Gomorah yang telah melakukan perbuatan keji, homoseksual dan menyamun dengan terang-terangan. Sungguh mereka, umat Nabi Lut yang berbuat homoseksual dan menyamun itu adalah orang-orang yang jahat kepada sesama manusia, lagi fasik, menyalahi perintah Allah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah menerangkan tiga macam rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut:

Pertama, Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hikmah dan kearifan memberi putusan atau hukuman, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.

Kedua, Ia juga dikaruniai ilmu pengetahuan yang sangat berguna terutama ilmu agama, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama mahluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Ketiga, Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara sesama lelaki (homosex), mengganggu lalulintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut dan tidak mengindahkan ancaman Allah dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah. Nabi Lut beserta keluarganya diselamatkan Allah kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah.

Pada akhir ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang terlarang, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Khabā’iṡ اَلْخَبَائِث(al- Anbiyā’/21: 74)

Khabā’iṡ merupakan bentuk jamak (plural) dari khabīṡah yang berasal dari kata kerja khabuṡa-yakhbuṡu yang artinya kotor atau buruk, dan ini merupakan antonim dari kata kerja ṭāba-yaṭību yang artinya baik. Dalam kamus, khabīṡah diartikan sebagai sesuatu yang tidak disukai, kotoran (najis), segala sesuatu yang rusak, semua yang haram. Dalam ayat ini yang dimaksud dengan khabā’iṡ adalah perilaku menyimpang yang dilakukan oleh umat Nabi Lut, hubungan badan yang dilakukan oleh sesama lelaki. Kebiasaan ini dinilai buruk, karena antara manfaat dan madarat atau antara sisi positif dan negatifnya ternyata sangat lebih besar negatifnya.

2. Al-Karb al-‘Aẓīm اَلْكَرْبِ اْلعَظِيْمِ(al-An biyā’/21: 76)

Al-karb al-‘aẓīm merupakan istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu al-karb dan al-‘aẓīm. Yang pertama (al-karb) merupakan bentuk maṣdar (kata benda) dari kata kerja karaba-yakrabu yang artinya menyempitkan atau mengetatkan, menyulitkan, atau memberatkan. Dari sini, al-karb dapat diartikan sebagai kesempitan, kesulitan, atau keberatan. Sedangkan kata kedua (al-‘aẓīm) diartikan sebagai sesuatu yang besar. Dengan demikian, ungkapan al-karb al-‘aẓīm artinya suatu kesulitan yang besar yang sangat membebani, baik fisik maupun psikis seseorang. Dalam ayat ini al-karb al-‘aẓīm diartikan sebagai suatu kesulitan berat yang ditanggung oleh Nabi Nuh yang tidak saja berhadapan dengan kaumnya yang ingkar, tetapi juga berhadapan dengan anaknya yang tidak patuh dan menolak untuk mengikuti ajakannya agar terhindar dari banjir yang melanda.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto