وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوْا خٰلِدِيْنَ
Wa mā ja‘alnāhum jasadal lā ya'kulūnaṭ-ṭa‘āma wa mā kānū khālidīn(a).
Kami tidak menjadikan mereka (para utusan) sebagai jasad yang tidak membutuhkan makanan. Mereka tidak (pula) hidup kekal.
Dan Kami tidak menjadikan mereka, para rasul sebelum engkau, wahai Muhammad, manusia yang menyalahi sifat kemanusiaan, yaitu suatu tubuh yang tidak memakan makanan, tidak membutuhkan minuman sebagai asupan untuk menjaga kelangsungan hidup; dan mereka, para rasul itu, tidak hidup kekal di dunia ini. Mereka pun mati sebagimana manusia pada umumnya.
Kaum musyrikin menyerang Rasulullah, di mana mereka menyinggung sifat-sifat kemanusiaan yang terlihat pada diri Rasulullah saw. Mereka mengatakan, mengapa rasul itu memakan makanan seperti manusia lainnya, dan berjalan di pasar (untuk berdagang), sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Furqān, ayat 7. Maka dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia menjadikan rasul-rasul itu orang-orang yang memakan makanan, dan tidak pula mereka hidup kekal di dunia, karena mereka itu adalah manusia juga, yang memerlukan makanan, minuman, tidur dan hidup berumah tangga. Hanya saja Allah telah memilih mereka untuk menyampaikan risalah-Nya kepada umat manusia, dan diberinya wahyu yang berisi petunjuk dan bimbingan, untuk mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran kepada cahaya iman yang terang benderang. Rasul sebagai pembimbing adalah manusia biasa yang tidak memiliki kualitas supranatural, melainkan hanya diberi wahyu.
Jasadan جَسَدًا (al-Anbiyā’/21: 8)
Jasad sama artinya dengan jism “tubuh”. Bedanya jism adalah “tubuh” dalam arti umum, sedangkan jasad lebih khusus pengertiannya pada tubuh manusia, misalnya al-Anbiyā’/21:8 ini. Ayat ini menyatakan bahwa nabi-nabi sebelumnya adalah juga manusia yang merupakan tubuh-tubuh yang butuh makan dan tidak abadi. Karena itu keingkaran orang kafir kepada Nabi Muhammad, yang makan dan juga akan mati, tidak beralasan. Dalam Al-Qur’an memang terdapat penggunaan kata jasad untuk yang bukan manusia, seperti “anak sapi” (Ṭāhā/20:88). Tetapi anak sapi di sini perlu diingat bahwa itu adalah yang dipertuhankan Bani Israil sehingga seakan-akan memiliki kedudukan lebih dari manusia.





















