وَلَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَمَنْ عِنْدَهٗ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَلَا يَسْتَحْسِرُوْنَ ۚ
Wa lahū man fis-samāwāti wal-arḍ(i), wa man ‘indahū lā yastakbirūna ‘an ‘ibādatihī wa lā yastaḥsirūn(a).
Hanya milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. (Malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih.
Dan milik-Nya, diciptakan dan tunduk kepada-Nya, semua makhluk Allah yang berada di langit seperti para malaikat, dan makhluk Allah yang berada di bumi. Dan para malaikat yang berada di sisi-Nya, tidak menyombongkan diri dengan menolak beribadah kepada-Nya dan para malaikat itu tidak pula merasa letih dalam beribadah kepada Allah.
Dalam ayat ini Allah mengingatkan kembali tentang kekuasaan-Nya yang mutlak, baik di langit maupun di bumi, yaitu bahwa Dialah yang menciptakan, menguasai, mengatur, mengelola, menghidupkan, mematikan, memberikan pahala dan menimpakan azab kepada makhluk-Nya. Tidak ada selain Allah yang mempunyai wewenang dan hak untuk campur tangan dalam masalah tersebut. Demikian pula kekuasaan-Nya terhadap makhluk-makhluk-Nya yang berada di sisi-Nya, yaitu para malaikat muqarrabin, yang diberi-Nya kedudukan yang mulia, patuh dan taat serta beribadah kepada-Nya tanpa henti-hentinya, dan tidak merasa lelah atau letih dalam mengabdi kepada-Nya.
1. Fayadmaguhū فَيَدْمَغُهُ (al-Anbiyā’/21:18)
Lafal di atas terambil dari kata damaga - yadmagu yang berarti melukai atau menghancurkan sampai tembus ke otaknya sampai bisa menghilangkan nyawa seseorang. Lafal ini juga digunakan untuk pengungkapan hujjah yang bisa membatalkan. Diartikan juga dengan bagian yang muncul dari pohon kurma, jika tidak dipotong maka akan merusak kurma tersebut. Dāmigah adalah cap atau tanda dengan besi yang membara yang digunakan untuk memberikan tanda harga. Semuanya ini merupakan bentuk kinayah dari lafal damaga yang arti dasarnya adalah menghancurkan. Maksud ayat ini adalah Allah akan menjadikan yang haq (benar) menghancurkan yang batil sehingga yang batil tersebut akan lenyap tidak berbekas. Ini menandakan bahwa sesuatu yang benar tidak akan bisa dikalahkan dengan yang batil.
2. Zāhiq زَاهِقْ (al-Anbiyā’/21:18)
Lafal zāhiq merupakan isim fa’il dari kata zahaqa yazhaqu yang berarti hilang atau lenyap. Zahaqa ruh artinya ruhnya telah hilang alias meninggal dunia. Lafal zahaqa mengandung makna kecepatan dalam gerakan dalam menghancurkan sesuatu. Maksud ayat ini, seperti dijelaskan sebelumnya bahwa yang haq akan senantiasa menghancurkan yang batil sehingga kebatilan akan lenyap dengan sendirinya.





















