قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
Qālū yā wailanā innā kunnā ẓālimīn(a).
Mereka berkata, “Betapa celaka kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim.”
Tidak ada jawaban mereka selain pengakuan dengan penuh kesadaran bahwa mereka telah ingkar kepada Allah. Mereka berkata, “Betapa celaka kami, sungguh, kami selama hidup di dunia termasuk orang-orang yang zalim dengan menolak ajaran para rasul.”
Dalam ayat ini Allah menjelaskan apa jawaban kaum kafir itu terhadap perintah di atas, ketika itu barulah mereka menyesal dan mengakui kezaliman yang telah mereka perbuat selama ini. Mereka berkata, “Aduhai, celaka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Akan tetapi, pengakuan dan penyesalan itu sudah tidak berguna lagi. Azab Allah tidak dapat dielakkan lagi. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.
1. Qaṣamnā قَصَمْنَا (al-Anbiyā’/21: 11)
Kata dasarnya adalah qaṣama artinya “memecah,” “menghancurkan”. Dalam al-Anbiyā’/21:11 ini Allah menegaskan bahwa banyak sudah negeri-negeri yang telah Allah hancurkan karena dosa-dosa mereka dan kemudian Allah munculkan setelah itu generasi-generasi baru. Hal itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kafir Quraisy. Mereka tidak akan dihancurkan di dunia ini, dan itu sudah menjadi janji-Nya. Tetapi di akhirat mereka pasti menemukan hukuman Allah.
2. Ḥaṣīdan Khāmidīn حَصِيْدًا خَامِدِيْنَ (al-Anbiyā’/21:15)
ḥa īd terambil dari kata ḥaṣada yang berarti memotong tanaman. Al-ḥiṣād berarti telah datang masa untuk memanen (al-An‘ām/6:141). Sedangkan lafal khāmidīn adalah bentuk jamak dari lafal khāmid yang terambil dari kata khamada berarti padam seperti pernyataan khamadat an-nār (api telah padam). Khamada juga digunakan untuk mengibaratkan sesuatu yang telah mati dan hancur, seperti firman Allah dalam Surah Yāsīn/36 :29 “Fa’iżā hum khāmidūn” (dengan satu teriakan saja, tiba-tiba mereka semuanya mati). Penafsiran lafal ini adalah ketika orang zalim merasakan azab Allah, mereka berlari dengan tergesa-gesa, sambil berucap, “Sungguh celaka kami, sesungguhnya kami termasuk orang-orang zalim.” Tetapi Allah tidak mengindahkan keluh kesah mereka, malah Allah menjadikan mereka seperti tanaman yang telah dituai yang tidak dapat hidup lagi.





















