يَوْمَ نَطْوِى السَّمَاۤءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِۗ كَمَا بَدَأْنَآ اَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيْدُهٗۗ وَعْدًا عَلَيْنَاۗ اِنَّا كُنَّا فٰعِلِيْنَ
Yauma naṭwis-samā'a kaṭayyis-sijilli lil-kutib(i), kamā bada'nā awwala khalqin nu‘īduh(ū), wa‘dan ‘alainā, innā kunnā fā‘ilīn(a).
(Ingatlah) hari ketika Kami menggulung langit seperti (halnya) gulungan lembaran-lembaran catatan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Itu adalah) janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya.
Oleh karena itu, manusia hendaklah mengingat hari Kiamat, yaitu pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas sehingga kehidupan dunia ini hancur. Keadaannya sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama, ketika kehidupan dunia ini tidak ada. Begitulah Kami akan mengulanginya lagi sehingga kehidupan ini pun kembali tidak ada. Hal ini merupakan janji yang pasti Kami tepati dengan tepat dan akurat; sungguh, Kami akan melaksanakannya, tetapi Kami tetap merahasiakan waktunya.
Orang-orang yang mendapat sambutan para malaikat itu tidak merasa gentar dan terkejut dengan datangnya hari Kiamat, di waktu langit dilipat dan diganti dengan langit yang lain, seakan-akan langit yang lama dilipat untuk disimpan dan langit yang baru dikembangkan. Allah berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ٦٧
Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar/39: 67)
Demikianlah Allah membangkitkan manusia setelah mereka mati dan berada di dalam kubur, untuk dikumpulkan di padang mahsyar, agar dapat dihisab amal perbuatan mereka. Membangkitkan manusia setelah mati dan hancur menjadi tanah adalah mudah bagi Allah. Jika Allah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada, tentulah mengulangi kembali menciptakannya adalah lebih mudah dari menciptakan pertama kali. Membangkitkan manusia kembali untuk dihisab itu adalah suatu janji dari Allah yang pasti ditepati-Nya.
Secara saintis, sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 30 dari surah ini, penciptaan alam semesta dimulai dari ketiadaan (keadaan singularitas: massa tak terhingga besarnya, volume tak terhingga kecilnya) yang kemudian meledak dahsyat dan kemudian membentuk alam semesta yang terus mengembang sampai dengan saat ini. Bukti tentang alam semesta yang mengembang ini dapat ditemukan pada hasil pengamatan dengan teleskop yang menunjukkan bahwa dengan berjalannya waktu, jarak antara benda-benda langit semakin menjauh. Para ilmuwan mengatakan bahwa alam semesta akan terus mengembang sampai dengan dicapainya massa kritis alam semesta. Apabila massa kritis ini telah tercapai, maka gaya tarik menarik (gravitasi) antara massa berbagai benda langit akan menahan proses pengembangan alam semesta.
Bahkan akan tercapai keadaan kontraksi alam semesta. Alam semesta yang semula mengembang akan mengkerut (berkontraksi) mengecil dan suatu saat akan hancur dan kembali pada keadaan awal (singularitas); keadaan seperti inilah yang disebut hari kiamat. Hari kiamat dalam ayat ini digambarkan sebagai hari di mana Allah akan “menggulung langit”, bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas, sebagaimana halnya awal penciptaan yang pertama. Istilah “menggulung langit” adalah ungkapan yang tepat, karena sesungguhnya alam semesta tidak bundar melainkan datar terdiri dari trilyunan galaksi yang membentuk “gulungan”.
1. ḥaṣabu Jahannam حَصَبُ جَهَنَّمَ (al-Anbiyā’/21: 98)
Istilah ḥaṣabu jahannam terdiri dari dua kata, yaitu ḥaṣab dan jahannam. Yang pertama (ḥaṣab) berasal dari kata kerja ḥaṣaba-yaḥṣibu/yaḥ ṣubu, yang artinya melempar dengan kerikil. ḥaṣab sendiri artinya adalah sesuatu yang dilempar ke dalam api sebagai bahan bakarnya, seperti kayu dan lainnya. Dalam ayat ini ḥaṣab diartikan sebagai apa yang dilempar ke dalam api untuk bahan bakar agar gejolak apinya bertambah. Yang kedua (jahannam) adalah tempat penyiksaan yang terdapat di akhirat, atau yang biasa disebut neraka. Dengan demikian, ḥaṣabu jahannam maksudnya adalah bahan bakar neraka yang menjadi tempat penyiksaan di akhirat bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa orang yang beribadah kepada selain Allah dan yang disembah akan mendapat balasan yang pedih, yaitu dijadikan sebagai bahan bakar neraka jahannam. Dijadikannya sesembahan kaum musyrikin sebagai bahan bakar neraka merupakan siksaan tersendiri bagi para penyembah itu, karena mereka menyaksikan sendiri apa yang sepenuhnya bertentangan dengan kepercayaan mereka.
2. Khālidūn خَالِدُوْنَ(al-An biyā’/21: 99)
Khālidūn merupakan bentuk jamak mużakar salim dari khālid yang merupakan bentuk ism fā’il dari kata kerja khalada-yakhludu yang maknanya kekal atau abadi. Dengan demikian khālidūn berarti mereka menjadi kekal. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya yang kekal itu hanya Allah. Sedangkan mahluk pada dasarnya tidak kekal, hanya saja mereka dikekalkan Allah dengan tujuan agar mereka dapat merasakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Karenanya, Allah itu kekal dengan sendiri-Nya (bi nafsihi), sedang mahluk kekal karena dikekalkan Allah (bi gairihi).
3. Zafīr زَفِيْر (al-Anbiyā’/21: 100)
Zafīr merupakan bentuk maṣdar dari kata kerja zafara-yazfiru, yang artinya suara gejolak, suara tarikan nafas panjang, suara lenguhan keledai yang pertama. Dalam ayat ini, zafīr diartikan sebagai suara rintihan nafas dari seseorang yang disertai rasa sakit yang kadang-kadang terdengar seperti orang yang tercekik karena nafas yang sesak. Dalam ayat ini, zafīr dimaksudkan untuk menggambarkan rintihan orang musyrik ketika menarik nafas pada saat disiksa akibat perilaku syirik, yaitu menyembah kepada selain Allah.







































