Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 55 - Surat Al-Anfāl (Rampasan Perang)
الانفال
Ayat 55 / 75 •  Surat 8 / 114 •  Halaman 184 •  Quarter Hizb 19 •  Juz 10 •  Manzil 2 • Madaniyah

اِنَّ شَرَّ الدَّوَاۤبِّ عِنْدَ اللّٰهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۖ

Inna syarrad-dawābbi ‘indallāhil-lażīna kafarū fahum lā yu'minūn(a).

Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk melata dalam pandangan Allah ialah orang-orang yang kufur karena mereka tidak beriman.

Makna Surat Al-Anfal Ayat 55
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah ayat sebelumnya menjelaskan sikap orang-orang kafir Mekah pada Perang Badar dan menyifatinya sebagai orang-orang yang zalim, maka ayat ini menjelaskan kelompok lain yang juga memusuhi Nabi Muhammad, yakni Yahudi Bani Quraidhah, yang disifati sebagai makhluk terburuk. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman, yakni mereka terus-menerus melakukan pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah dan merusak perjanjian yang sudah dikuatkan dengan sumpah, sebagaimana yang dilakukan oleh Yahudi Bani Quraizah.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Sesungguhnya sejahat-jahat binatang yang melata di bumi menurut pandangan Allah ialah orang-orang kafir yang mempunyai sifat suka membangkang, sehingga keadaan mereka terus-menerus dalam kekafiran dan berada dalam keingkaran kepada Nabi, sehingga tidak dapat diharapkan iman dari mereka. Mereka itu ada yang kedudukannya sebagai pemimpin yang selalu dengki kepada Rasulullah, membantah setiap ayat yang juga tertulis dalam Taurat yang menjadi saksi atas kebenarannya, padahal mereka dalam hati kecilnya meyakini bahwa Muhammad itu betul-betul utusan Allah, sehingga mengenal Nabi Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Yang menjadi pengikut-pengikut mereka adalah orang-orang yang dalam keadaan membabi buta mengikuti saja pemimpin-pemimpinnya dan tidak mau melihat bukti-bukti yang disebutkan dalam kitab mereka. Dalam ayat ini Allah menyamakan mereka itu dengan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang, karena binatang-binatang itu ada manfaatnya bagi manusia, sedang mereka itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi dirinya maupun bagi orang lain. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

اَمْ تَحْسَبُ اَنَّ اَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُوْنَ اَوْ يَعْقِلُوْنَۗ اِنْ هُمْ اِلَّا كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ سَبِيْلًا ࣖ

Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya. (al-Furqān/25: 44)

Isi Kandungan Kosakata

Khiyānah خِيَانَة (al-Anfāl/8: 58)

Kata khiyānah merupakan maṣdar dari kata khāna-yakhūnu-khaunan- khiyānatan, yang artinya penyimpangan dari yang semestinya. Bila berkaitan dengan janji, maka ia berarti melanggar janji/berkhianat. Ia terambil dari kata khānahuz-zaman berarti waktu merubahnya dari baik menjadi buruk. Kalimat khānahus-saif berarti pedang itu mengkhianatinya dalam arti berubah dari kondisi tajam menjadi tumpul. Karena itu dikatakan, “Pedang adalah saudaramu, dan ia bisa mengkhianatimu.”

Di dalam Al-Qur’an disebutkan lafaz takhtānūna anfusakum (al-Baqarah/2: 187, an-Nisā’/4: 107). Secara harfiah, lafaz tersebut berarti: Kalian mengkhianati diri kalian sendiri. Maksud dari mengkhianati diri sendiri dalam surah al-Baqarah tersebut adalah menyetubuhi istri pada malam hari bulan puasa sebelum diperbolehkan. Disebut mengkhianati diri sendiri karena akibat buruk perbuatan yang dilakukan, kembali kepada diri sendiri. Dari sini Al-Qur’an menyebut kata khā’inatal-a’yun yang secara harfiah berarti pandangan yang berkhianat, maksudnya pandangan yang dilarang dan akibat buruknya kembali kepada diri sendiri.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto