ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ
Żālikum fa żūqūhu wa anna lil-kāfirīna ‘ażāban-nār(i).
Demikian itu (hukuman dunia yang ditimpakan atasmu). Maka, rasakanlah hukuman itu, dan (di hari Kiamat) sesungguhnya bagi orang-orang kafir ada azab neraka.
Demikianlah hukuman dunia yang ditimpakan atasmu, wahai para pembangkang, maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang kafir ada lagi selain siksa duniawi tersebut berupa azab neraka.
Allah swt menegaskan ancamannya kepada orang-orang kafir bahwa hukuman dunia yang ditimpakan atas mereka adalah hukuman yang harus dirasakan sebagai imbalan keingkaran mereka terhadap hukum-hukum dan nikmat Allah. Di samping itu Allah menegaskan pula bahwa bagi mereka ada lagi siksaan yang paling pedih dirasakan yaitu siksaan api neraka yang akan ditimpakan kepada mereka di akhirat.
Tastagīṣūna تَسْتَغِيْثُوْ نَ (al-Anfāl/8: 9)
Kata tastagīṣūna berasal dari kata istagāṡa-yastagīṡu-ist igāṡatan, artinya berteriak “wa gauṡāh” (tolong!). Kata ini terambil dari kata gauṡ, atau gawāṡ, atau guwāṡ, yang artinya pertolongan. Kabilah dalam bahasa Arab juga disebut dengan kata gauṡ, karena para anggota kabilah saling tolong-menolong di antara sesama mereka. Kata ini juga memiliki akar gaiṡ yang berarti air hujan. Jadi, kata istigāṡah dengan akar gaiṡ ini berarti memohon hujan kepada Allah, seperti yang terdapat dalam surah al-Kahf ayat 29. Yang dimaksud di sini adalah meminta tolong dan berdoa kepada Allah.
















































