Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 79 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 79 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 160 •  Quarter Hizb 16.75 •  Juz 8 •  Manzil 2 • Makkiyah

فَتَوَلّٰى عَنْهُمْ وَقَالَ يٰقَوْمِ لَقَدْ اَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّيْ وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلٰكِنْ لَّا تُحِبُّوْنَ النّٰصِحِيْنَ

Fa tawallā ‘anhum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālata rabbī wa naṣaḥtu lakum wa lākil lā tuḥibbūnan-nāṣiḥīn(a).

Maka, dia (Saleh) meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah menyampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku telah menasihatimu, tetapi kamu tidak menyukai para pemberi nasihat.”

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 79
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah melihat kebinasaan yang menimpa kaumnya akibat disambar petir dan gempa, kemudian dia, Nabi Saleh, pergi dengan berat hati, sedih dan rasa haru meninggalkan mereka yang sudah mati sambil berkata dengan penuh penyesalan dan rasa iba, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku berupa pesan dan peringatan-Nya, kepadamu dan aku telah cukup menasihati kamu dengan melarangmu melakukan perbuatan yang akan membawa bencana bagimu. Tetapi kamu tidak menghiraukan seruanku, bahkan tidak menyukai orang yang memberi nasihat, siapa pun dia.” Seruan Nabi Saleh ini menunjukkan cintanya yang sa-ngat besar kepada kaumnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah kaum Ṣamūd binasa akibat disambar petir, ayat ini menerangkan bahwa Nabi Saleh dengan rasa haru dan sedih berkata kepada mereka yang sudah mati, bahwa dia sesungguhnya telah menyampaikan amanat Tuhannya dan telah cukup memberi nasihat kepada mereka namun mereka tidak suka menerima nasihat. Seruan Nabi Saleh ini yang ditujukan kepada kaumnya yang telah mati itu menunjukkan betapa cintanya kepada kaumnya. Hal mana mengingatkan kita kepada seruan Nabi Muhammad terhadap sebagian orang-orang Quraisy yang telah mati dan sudah dikuburkan dalam Perang Badar. Rasulullah berkata:

يَا اَبَا جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ، يَا عُتْبَةُ بْنِ رَبِيْعَةَ يَا شَيْبَةُ بْنِ رَبِيْعَةَ وَيَا فُلاَنُ بْنِ فُلاَنٍ وَفُلاَنُ بْنِ فُلاَنٍ: هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَاِنِّى وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِى رَبِّى حَقًّا؟ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، مَا تُكَلِّمُ مِنْ أَقْوَامٍ قَدْ جَيَّفُوْا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلىَّ اللّٰهُعَلَيْه ِ وَسَلَّمَّ: وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُوْلُ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لاَ يُجِيْبُوْنَ (رواه البخاري ومسلم عن ابي طلحة الانصاري ).

“Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Utbah bin Rabi’ah. Wahai Syaibah bin Rabi’ah dan wahai Fulan anak Fulan, Adakah sekarang ini kamu menemukan apa-apa yang dijanjikan Allah itu benar? Karena aku telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar. Umar berkata, “Ya Rasulullah, apa guna berbicara dengan tubuh yang tidak bernyawa?” Rasulullah menjawab, “Demi Tuhan dimana diriku tergantung pada-Nya. Kamu tidaklah lebih mendengar dari mereka terhadap apa yang aku katakan. Tetapi mereka tidak dapat menjawab.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Abu ṭalḥah al-Anṣari).

Ayat 79 ini tidak mengutarakan bahwa Nabi Saleh menghindar dari kaumnya sebelum datang azab Allah, demikian juga tidak mengutarakan tentang nasib sebagian kaum Ṣamūd yang beriman kepada Nabi Saleh. Namun ayat 79 ini jelas mengutarakan bahwa Nabi Saleh diselamatkan oleh Allah. Ibnu Kaṡīr menerangkan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Saleh dan pengikutnya dari azab tersebut kemudian pergi dan tinggal di Haran.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fażarūhā فَذَرُوْهَا(al-A rāf/7: 73)

Kata żar merupakan fi’il amar dari fi’il māḍī ważira-yażaru yang artinya tinggalkanlah atau biarkanlah. Yang dipergunakan dari kalimat ini hanya fi’il muḍāri’ dan fi’il amarnya saja. Arti dari akar kata ini adalah meninggalkan sesuatu dan melemparkannya begitu saja dengan tidak mempedulikannya.

2. Bawwa’akum بَوَّاَكُمْ (al-A‘rāf/7: 74)

Artinya menempatkan kamu. Akar katanya adalah (ب- و- ء) yang berarti kembali dengan membawa kebaikan atau keburukan. Kata bā’a ( باء ) dalam Al-Qur’an selalu berkonotasi buruk. (lih. Āli ‘Imrān/3: 162, al-Baqarah/2: 61, al-Mā’idah/5: 29). Sedangkan kata bawwa’a (بوأ ) sebagaimana pada ayat ini berarti menjadikan tempat tinggal mereka sebagai tempat kembali yang layak untuk istirahat. (Yūnus/10: 93, al-Ḥajj/22: 26).

3. ‘Aqaru an-Nāqah wa ‘ataw عَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا(al-A‘r f/7: 77)

Kata ‘aqara pada mulanya berarti pokok sesuatu. Bagian tengah dari rumah yang merupakan bagian terindah darinya disebut ‘uqur. Wanita mandul disebut ‘aqīr karena dia terkena masalah dengan asal keberadaannya (aṣl wujūdihā) seakan-akan wanita itu ditelikung atau diikat sehingga tidak berdaya atau dia menelikung sperma laki-laki. Ibnu Faris mengembalikan arti ‘aqara kepada arti melukai (jarḥ) atau membikin sesuatu tidak berdaya. Kata ‘aqara dinisbatkan khusus untuk onta. Onta yang mau disembelih terlebih dahulu dipukul kaki-kakinya yang menjadi pokok kehidupannya, setelah roboh dan tidak berdaya baru disembelih.

Kata ‘ataw berarti melampaui batas dalam kebatilan, berlaku angkuh dan sombong terhadap kebenaran. Akar katanya (ع- ت- و; huruf ilat) berarti sombong.

4. Jāṡimīn جَاثِمِيْنَ(al-A rāf/7: 78)

Artinya bergelimpangan. Kata juṡum bagi burung adalah keadaan ketika dia mendekam mau tidur di malam hari. Juga untuk onta yang menderum di tempatnya. Bagi manusia adalah keadaan dimana seseorang duduk malas. Arti dari semua itu ialah keberadaan tak bergerak sesuai dengan keadaan masing-masing ketika datangnya siksa.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto