اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠ لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ
Uballigukum risālāti rabbī wa ana lakum nāṣiḥun amīn(un).
Aku sampaikan kepadamu risalah-risalah (amanat) Tuhanku dan aku terhadap kamu adalah penasihat yang tepercaya.
Aku menyampaikan kepadamu amanat, pesan, dan tuntunan dari Tuhanku dan pemberi nasihat yang menghendaki kebaikan dan kebahagiaanmu dunia dan akhirat, dan aku adalah orang yang tepercaya, jujur, bukan pembohong, yang diutus kepada kamu.”
Ayat ini menerangkan penegasan Nabi Hud kepada kaumnya, bahwa dia hanya menyampaikan perintah-perintah Tuhannya agar mereka beriman kepada-Nya, kepada hari kemudian, kepada Rasul-rasul, kepada malaikat-malaikat Allah, kepada adanya surga dan neraka dan agar mereka melaksanakan perintah-perintah Tuhan, baik yang berhubungan dengan ibadat maupun muamalat. Nabi Hud menegaskan bahwa dia adalah benar-benar seorang yang ikhlas dan orang yang dipercaya. Dengan kata-kata ini seolah-olah Nabi Hud mengemukakan kepada kaumnya, “tidak wajar bagiku berdusta kepada Tuhanku yang mengutusku sebagai rasul.”
Demikianlah gambaran budi pekerti para rasul pilihan Allah ketika menghadapi pembangkangan kaum yang bukan saja menentang malahan secara tidak sopan menuduh para rasul dengan berbagai tuduhan yang rendah sekali. Namun demikian, para rasul itu menghadapi mereka dengan tenang dan dengan hati yang penuh kesabaran.
1. Basṭah بَصْطَةً(al-A‘rāf /7: 69)
Kata yang terdiri dari (ب- ص- ط) mempunyai arti melebarnya sesuatu, lapang, baik hissi maupun maknawi. Yang hissi contohnya pada ayat ini yaitu kaum ‘Ad adalah kaum yang mempunyai perawakan tegar, besar dan kuat. Yang maknawi seperti ungkapan baṣṭ al-yad berarti pemurah, pemberi, seperti pada ayat 245 surah al-Baqarah, dan ayat 27 surah asy-Syūra. Bisa juga berarti menyerang dan memukul (ṣaulah, ḍarbah) seperti pada ayat 28/ al-Mā’idah.
2. Rijsun wa gaḍab رِجْسٌ وَغَضَبٌ(al-A‘rāf /7: 71)
Rijs pada awalnya untuk sesuatu yang buruk dan keji. Lalu dalam konteks ayat ini dipahami sebagai sangsi yang dijatuhkan oleh Allah karena keburukan hati kaum ‘Ad.
Gaḍab artinya murka. Akar kata yang terdiri dari (غ- ض- ب) menunjukkan arti kuat dan keras (quwwah wa syiddah). Allah murka berarti Allah melakukan tindakan keras dan tegas bagi mereka yang melakukan pembangkangan terhadapNya.
3. Qaṭa’nā dābirā قَطَعْنَا دَابِرَا (al-A‘rāf/7: 73)
Qaṭa’ā berarti memutus. Dābir berarti belakang. Maksudnya adalah Allah menghancurkan habis kaum ‘Ad sampai barisan yang ada di belakang pasukan mereka.






































