وَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ لَهُمْ نَصْرًا وَّلَآ اَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُوْنَ
Wa lā yastaṭī‘ūna lahum naṣraw wa lā anfusahum yanṣurūn(a).
(Berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada mereka (para penyembahnya) dan (bahkan) kepada dirinya sendiri pun ia tidak dapat memberi pertolongan.
Sungguh bodoh mereka yang menjadikan makhluk sebagai sekutu bagi Allah, dan bukan hanya tidak dapat mencipta, berhala-berhala itu juga tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan bahkan kepada dirinya sendiri pun mereka, yakni berhala-berhala itu, tidak dapat memberi pertolongan jika ada yang merusak dan mengganggu mereka.
Ayat ini seperti ayat-ayat yang lalu menggambarkan penyembah-penyembah berhala pada umumnya, termasuk kemusyrikan Arab Mekah. Allah menjelaskan bahwa sembahan-sembahan kaum musyrikin itu tidak punya kesanggupan apa-apa, baik dalam memberi pertolongan terhadap diri mereka sendiri, ketika terjadi serangan dari musuh kepada penyembah-penyembah itu, ataupun mereka ditimpa oleh malapetaka, patung-patung itu tidak dapat memberikan pertolongan. Bahkan bila ada seseorang mengotori patung-patung itu atau mencuri perhiasannya, niscaya patung itu tidak dapat membela dirinya sendiri. Demikianlah patung-patung itu hanya disembah dan dibela, tetapi menyembah itu tak dapat imbalan apa-apa dari patung itu.
Ja’ala جَعَلَ (al-A‘rāf /7: 189)
Ja`ala merupakan kata kerja dalam bentuk māḍī (lampau), yang bentuk sekarang atau yang akan datang (muḍari`) adalah yaj’alu. Makna dari kata kerja ini adalah menjadikan atau mewujudkan sesuatu dari bahan yang telah ada sebelumnya sambil menekankan bahwa yang wujud itu sangat bermanfaat dan harus diraih faedahnya. Manfaat itu terutama diciptakan untuk manusia, karena seluruh makhluk yang ada di alam ini diadakan untuk kesejahteraan manusia. Karena itu, manusia harus dapat meraih manfaat dari segala yang ada. Selain ja`ala, kata yang hampir sama maknanya adalah khalaqa. Namun demikian, antara keduanya tetap ada perbedaan. Khalaqa maknanya mencipta. Dalam kata ini terkesan bahwa terciptanya sesuatu itu melalui bahan yang telah ada sebelumnya atau yang belum ada. Selain itu, pada kata ini juga terkesan bahwa wujud yang tercipta itu sangat hebat, dan akan menjadi lebih hebat lagi bila Allah yang mewujudkannya.















































