Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 64 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 64 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 158 •  Quarter Hizb 16.5 •  Juz 8 •  Manzil 2 • Makkiyah

فَكَذَّبُوْهُ فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ فِى الْفُلْكِ وَاَغْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا عَمِيْنَ ࣖ

Fa każżabūhu fa anjaināhu wal-lażīna ma‘ahū fil-fulki wa agraqnal-lażīna każżabū bi'āyātinā, innahum kānū qauman ‘amīn(a).

(Karena) mereka mendustakannya (Nuh), Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 64
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Kaum Nabi Nuh tetap tidak menghiraukan seruan dan nasihat Nabi Nuh. Bahkan, kebanyakan dari mereka mendustakannya dan terusmenerus menentang ajarannya. Mereka tetap berada dalam keka-firan sehingga Allah menurunkan azabnya. Lalu Kami selamatkan dia, yakni Nabi Nuh, dan orang-orang yang bersamanya dari siksa dan azab Kami di dalam kapal yang telah dia buat berdasarkan petunjuk Kami. Adapun balasan bagi kaum yang ingkar, Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami di dalam air banjir. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta mata hatinya sehingga tidak memiliki pandangan yang benar, tidak bisa melihat tanda-tanda kebesaran Kami, dan tidak dapat mengambil pelajaran dari peringatan yang disampaikan kepada mereka.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan kaum Nabi Nuh masih tetap mengejek dan mendustakannya, mereka tetap menentang perintah Tuhan dan bertambah hanyut dalam kedurhakaan. Hati nurani mereka tertutup sehingga mereka tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah dan mereka tidak dapat mengambil hikmat manfaat dari pengutusan para Rasul. Telinga mereka pun menjadi tuli sehingga mereka tidak dapat membenarkan adanya hari kemudian, hari pembalasan yang disampaikan oleh Nabi Nuh yang semestinya diketahui oleh manusia bahwa seorang yang hidup di dunia ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah sebagai Pencipta-Nya, Nabi menunjukkan kepada adanya kehidupan pada hari kemudian. Tetapi manusia yang tidak menggunakan pikirannya menduga bahwa kehidupan manusia itu hanya di dunia saja tanpa ada pertanggungjawaban di akhirat.

Secara tidak sadar mereka telah menyamakan dirinya dengan hewan, karenanya timbullah berbagai perbuatan jahat seperti syirik di atas bumi ini. Karena keingkaran kaum Nuh inilah, azab Allah menimpa mereka, yaitu berupa angin dan banjir yang menenggelamkan mereka. Hanya sedikit dari pengikut kaum Nuh yang diselamatkan oleh Allah dari tenggelam di waktu terjadinya bencana tersebut karena mereka berada dalam perahu yang telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Kebanyakan kaumnya tenggelam karena mereka hanyut dalam kekufuran dan kemaksiatan.

Isi Kandungan Kosakata

1. al-Mala’ الَمَلَأ (al-A‘rāf/7: 62)

Artinya pemuka-pemuka satu kaum atau kelompok masyarakat. Akar kata (م- ل- ء) berarti penuh. Pemuka kaum dinamakan mala’ karena mereka bisa memenuhi mata dan hati masyarakat umum karena kedudukan dan pengaruh mereka, atau karena mereka penuh dengan hal-hal yang dibutuhkan kaumnya. Terkadang kata ini digunakan juga untuk kelompok masyarakat tertentu bukan pemimpin-pemimpin mereka saja. Sebutan al-mala’ al-a’la untuk para Malaikat yang sangat dekat dengan Allah atau Malaikat secara umum.

2. Anṣaḥu اَنْصَحُ(al-A‘rāf /7: 62)

Artinya aku memberi nasihat. Akar kata yang terdiri dari (ن- ص- ح) artinya berkisar pada arti menyerasikan dua hal dan memperbaikinya, atau usaha secara sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan, melakukan hal yang semestinya dan seyogyanya dilakukan oleh yang dinasihati dan keinginan untuk memperbaikinya. Seorang penjahit dinamakan al-naṣiḥ karena dia berusaha agar jahitannya serasi sehingga kelihatan baik. Orang yang menasihati orang lain berarti dia berharap agar orang lain tersebut mendapatkan kebaikan dan terhidar dari keburukan. Menasihati diri sendiri berarti menjauhkan diri dari hal yang merugikan baik di dunia maupun akhirat. Nasihat kepada Allah berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Nasihat kepada Nabi berarti membenarkannya, meniru akhlaknya, menerapkan ajarannya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto