اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Awa‘ajibtum an jā'akum żikrum mir rabbikum ‘alā rajulim minkum liyunżirakum wa litattaqū wa la‘allakum turḥamūn(a).
Apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa telah datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu kepada seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?”
Selanjutnya Nabi Nuh berkata, “Dan herankah, tidak percayakah, kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui perantaraan seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, yakni dari anggota masyarakatmu yang kamu tahu keturunan dan kejujurannya, untuk memberi peringatan kepadamu dengan azab apabila kamu ingkar dan agar kamu bertakwa mengikuti perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, sehingga kamu mendapat rahmat dari Allah dan terhindar dari siksa-Nya. Tidaklah pantas kamu heran, bahkan meragukan kebenaran ajaran yang aku bawa setelah datang bukti dan keterangan yang jelas kepadamu.”
Dalam ayat ini Allah menerangkan tentang kecaman Nabi Nuh kepada kaumnya, bahwa tidaklah patut mereka itu merasa heran atau ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka sendiri. Dia memperingatkan mereka tentang azab yang akan menimpa mereka, bilamana mereka tetap dalam kekafiran. Dengan peringatan itu, mereka akan dapat memelihara diri dari perbuatan syirik dan munkar sehingga mereka memperoleh rahmat Allah.
Adapun yang menyebabkan keraguan dan keheranan kaumnya tentang kerasulannya, karena Nabi Nuh tidak mempunyai kelebihan yang istimewa. Tetapi jika mereka menggunakan pikiran yang sehat bahwa kelebihan antara manusia itu di samping diperoleh dengan usaha manusia itu sendiri, juga didapat dari karunia Allah, karena Allah Yang Mahakuasa.
Dalam kenyataan hidup manusia, nampak perbedaan di antara masing-masing manusia itu, baik perbedaan jasmaniah, maupun rohaniah. Oleh karena itu semestinya mereka menyambut seruan dari salah seorang yang memiliki kelebihan dan keistimewaan sebagai rasul untuk menyelamatkan mereka dari siksa Allah akibat kekufuran dan membawa mereka kepada kebenaran dan ketakwaan kepada Allah untuk memperoleh keridaan dan rahmat-Nya.
1. al-Mala’ الَمَلَأ (al-A‘rāf/7: 62)
Artinya pemuka-pemuka satu kaum atau kelompok masyarakat. Akar kata (م- ل- ء) berarti penuh. Pemuka kaum dinamakan mala’ karena mereka bisa memenuhi mata dan hati masyarakat umum karena kedudukan dan pengaruh mereka, atau karena mereka penuh dengan hal-hal yang dibutuhkan kaumnya. Terkadang kata ini digunakan juga untuk kelompok masyarakat tertentu bukan pemimpin-pemimpin mereka saja. Sebutan al-mala’ al-a’la untuk para Malaikat yang sangat dekat dengan Allah atau Malaikat secara umum.
2. Anṣaḥu اَنْصَحُ(al-A‘rāf /7: 62)
Artinya aku memberi nasihat. Akar kata yang terdiri dari (ن- ص- ح) artinya berkisar pada arti menyerasikan dua hal dan memperbaikinya, atau usaha secara sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan, melakukan hal yang semestinya dan seyogyanya dilakukan oleh yang dinasihati dan keinginan untuk memperbaikinya. Seorang penjahit dinamakan al-naṣiḥ karena dia berusaha agar jahitannya serasi sehingga kelihatan baik. Orang yang menasihati orang lain berarti dia berharap agar orang lain tersebut mendapatkan kebaikan dan terhidar dari keburukan. Menasihati diri sendiri berarti menjauhkan diri dari hal yang merugikan baik di dunia maupun akhirat. Nasihat kepada Allah berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Nasihat kepada Nabi berarti membenarkannya, meniru akhlaknya, menerapkan ajarannya.








































