اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنْصَحُ لَكُمْ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Uballigukum risālāti rabbī wa anṣaḥu lakum wa a‘lamu minallāhi mā lā ta‘lamūn(a).
Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Nabi Nuh kemudian menegaskan tugasnya sebagai utusan Allah dengan berkata, “Aku tak kenal lelah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, yakni perintah dan larangan-Nya, memberi nasihat dan tuntunan kepadamu untuk kebahagiaanmu di dunia dan di akhirat, dan aku mengetahui persoalan agama dan hal-hal yang gaib melalui wahyu dari Allah apa yang tidak bisa kamu ketahui.”
Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Nuh menegaskan kepada kaumnya bahwa dia mendapat tugas dari Allah untuk menyampaikan perintah-perintah Tuhannya agar manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada hari kemudian, kepada Rasul-rasul yang diutus Allah, kepada malaikat-malaikat Allah dan menyampaikan juga hukum-hukum yang Allah tentukan baik yang berkenaan dengan ibadat maupun yang berkenan dengan muamalat. Nabi Nuh dalam menyampaikan tugasnya disertai dengan ancaman halus berupa nasihat-nasihat kepada kaumnya agar takut kepada siksaan Allah sebagai balasan terhadap orang-orang yang tidak beriman kepadanya, serta mendustakan Rasul-rasul-Nya. Nabi Nuh menegaskan pula bahwa ia benar-benar mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya, semuanya itu diketahuinya dari Allah. Demikian gigihnya Nabi Nuh dalam meyakinkan kaumnya.
1. al-Mala’ الَمَلَأ (al-A‘rāf/7: 62)
Artinya pemuka-pemuka satu kaum atau kelompok masyarakat. Akar kata (م- ل- ء) berarti penuh. Pemuka kaum dinamakan mala’ karena mereka bisa memenuhi mata dan hati masyarakat umum karena kedudukan dan pengaruh mereka, atau karena mereka penuh dengan hal-hal yang dibutuhkan kaumnya. Terkadang kata ini digunakan juga untuk kelompok masyarakat tertentu bukan pemimpin-pemimpin mereka saja. Sebutan al-mala’ al-a’la untuk para Malaikat yang sangat dekat dengan Allah atau Malaikat secara umum.
2. Anṣaḥu اَنْصَحُ(al-A‘rāf /7: 62)
Artinya aku memberi nasihat. Akar kata yang terdiri dari (ن- ص- ح) artinya berkisar pada arti menyerasikan dua hal dan memperbaikinya, atau usaha secara sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan, melakukan hal yang semestinya dan seyogyanya dilakukan oleh yang dinasihati dan keinginan untuk memperbaikinya. Seorang penjahit dinamakan al-naṣiḥ karena dia berusaha agar jahitannya serasi sehingga kelihatan baik. Orang yang menasihati orang lain berarti dia berharap agar orang lain tersebut mendapatkan kebaikan dan terhidar dari keburukan. Menasihati diri sendiri berarti menjauhkan diri dari hal yang merugikan baik di dunia maupun akhirat. Nasihat kepada Allah berarti menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Nasihat kepada Nabi berarti membenarkannya, meniru akhlaknya, menerapkan ajarannya.





































