قَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِيْمٌۙ
Qālal-mala'u min qaumi fir‘auna inna hāżā lasāḥirum ‘alīm(un).
Para pemuka kaum Fir‘aun berkata, “Sesungguhnya orang ini benar-benar penyihir yang sangat pandai.
Ketika Nabi Musa telah memperlihatkan bukti-bukti dari Allah itu, tercenganglah para pemuka dan pembesar Fir'aun. Pemuka-pemuka kaum Fir'aun, dengan menjilat dan bersikap munafik, berkata kepada Fir'aun, “Orang ini benar-benar pesihir yang pandai, ini sebenarnya hanya kemahiran sihir saja, bukan bukti dari Allah, karena itu jangan memercayainya.
Oleh karena Fir‘aun meminta saran kepada para pembesarnya, maka mereka mengajukan saran agar Musa dan saudaranya (yaitu Nabi Harun) ditahan, dan penyelesaian masalahnya ditangguhkan buat sementara. Di samping itu, Para pembesar Fir‘aun itu mengatakan bahwa Fir‘aun harus segera mengirim utusan, ke semua pelosok negeri, untuk mengumpulkan ahli-ahli sihir yang sangat mahir, yang diharapkan akan dapat mengalahkan mukjizat Nabi Musa yang telah diperlihatkan kepada mereka.
Kosakata : ‘Aṣāka عَصَاكَ (al-A‘rāf/7: 117).
‘Aṣā jamak عِصِيٌّ ‘iṣiyun, ‘uṣiyyun artinya tongkat. Sama halnya dengan “putih bersinar,” yang dengan wahyu atau ilham dari Allah, mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular oleh pembesar-pembesar Firaun dikira sihir juga, seperti perbuatan jahat mereka dengan mengumpulkan semua pakar pesihir yang piawai (al-A‘rāf/7: 111). Dalam dunia mereka, sihir bukan kejahatan, bukan tipu muslihat, tetapi sudah merupakan puncak kepiawaian dan kejayaan yang dapat menentukan kedudukan seseorang.













































