قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ
Qālal-mala'ul-lażīna kafarū min qaumihī innā lanarāka fī safāhatiw wa innā lanaẓunnuka minal-kāżibīn(a).
Para pemuka yang kufur di antara kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menduga bahwa kamu termasuk para pembohong.”
Mendengar seruan Nabi Hud, kebanyakan kaumnya tetap kafir, tidak mau mengikuti ajakan dan dakwahnya. Bahkan, pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya yang berkuasa berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu, yakni melihat dan menilaimu secara keseluruhan, benar-benar kurang waras, tidak memahami apa yang kamu katakan, dan kami kira dan yakin kamu termasuk orang-orang yang berdusta dalam perkataanmu.”
Ayat ini menerangkan bahwa para pemuka kaum Hud yang tetap dalam kekufuran dan tetap menentang kerasulan Hud bukan saja menolak seruannya, malahan mereka menegaskan bahwa mereka berada dalam agama yang benar dan mereka memandang bahwa Nabi Hud itulah yang berada dalam kesesatan, disebabkan ia meninggalkan agama mereka dan menghina orang-orang yang terkemuka di kalangan kaumnya yang mereka anggap suci. Orang-orang yang dianggap suci itu setelah mati mereka keramatkan dalam bentuk patung guna mendapatkan syafaat dan berkahnya dari mereka. Nabi Hud menentang paham mereka. Karena itu mereka menuduh bahwa Nabi Hud adalah pendusta yang berada dalam kesesatan sebagaimana halnya rasul-rasul dahulu, juga didustakan oleh kaumnya, disebabkan mereka berlawanan paham dengan kaumnya.
1. Basṭah بَصْطَةً(al-A‘rāf /7: 69)
Kata yang terdiri dari (ب- ص- ط) mempunyai arti melebarnya sesuatu, lapang, baik hissi maupun maknawi. Yang hissi contohnya pada ayat ini yaitu kaum ‘Ad adalah kaum yang mempunyai perawakan tegar, besar dan kuat. Yang maknawi seperti ungkapan baṣṭ al-yad berarti pemurah, pemberi, seperti pada ayat 245 surah al-Baqarah, dan ayat 27 surah asy-Syūra. Bisa juga berarti menyerang dan memukul (ṣaulah, ḍarbah) seperti pada ayat 28/ al-Mā’idah.
2. Rijsun wa gaḍab رِجْسٌ وَغَضَبٌ(al-A‘rāf /7: 71)
Rijs pada awalnya untuk sesuatu yang buruk dan keji. Lalu dalam konteks ayat ini dipahami sebagai sangsi yang dijatuhkan oleh Allah karena keburukan hati kaum ‘Ad.
Gaḍab artinya murka. Akar kata yang terdiri dari (غ- ض- ب) menunjukkan arti kuat dan keras (quwwah wa syiddah). Allah murka berarti Allah melakukan tindakan keras dan tegas bagi mereka yang melakukan pembangkangan terhadapNya.
3. Qaṭa’nā dābirā قَطَعْنَا دَابِرَا (al-A‘rāf/7: 73)
Qaṭa’ā berarti memutus. Dābir berarti belakang. Maksudnya adalah Allah menghancurkan habis kaum ‘Ad sampai barisan yang ada di belakang pasukan mereka.
















































