Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 75 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 75 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 160 •  Quarter Hizb 16.75 •  Juz 8 •  Manzil 2 • Makkiyah

قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِمَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ اَتَعْلَمُوْنَ اَنَّ صٰلِحًا مُّرْسَلٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قَالُوْٓا اِنَّا بِمَآ اُرْسِلَ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

Qālal-mala'ul-lażīnastakbarū min qaumihī lil-lażīnastuḍ‘ifū liman āmana minhum ata‘lamūna anna ṣāliḥam mursalum mir rabbih(ī), qālū innā bimā ursila bihī mu'minūn(a).

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka, “Tahukah kamu bahwa Saleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami beriman kepada apa (wahyu) yang dibawanya.”

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 75
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mendengar peringatan Allah yang disampaikan oleh Nabi Saleh, pemuka-pemuka dan pembesar masyarakat dari kaumnya yang menyombongkan diri dan angkuh berkata dengan nada ejekan untuk menanamkan keraguan kepada orang-orang yang dianggap lemah, yaitu orang-orang yang telah beriman di antara kaumnya, “Tahukah atau percayakah kamu bahwa Saleh adalah seorang rasul dari Tuhannya yang diutus untuk menyampaikan risalah?” Mereka, orang-orang yang beriman, menjawab dengan tegas, “Sesungguhnya kami benar-benar percaya kepada apa, yakni risalah, yang disampaikannya, yakni Nabi Saleh, kepada kami, karena petunjuk-petunjuk itu benar dan datangnya dari Allah.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa pemuka yang sombong dari kaum Ṣamūd itu mengatakan kepada orang-orang yang lemah dan beriman kepada Nabi Saleh dengan cara mengejek seolah-olah mereka itu berada dalam kekeliruan karena beriman kepada kerasulan Nabi Saleh. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang lemah itu tidak putus asa, mungkin karena percaya akan kerasulan Saleh. Memang menurut kebiasaan bahwa golongan yang lemah tidak mempunyai kepentingan, mereka masih berpegang kepada hati nurani mereka, karena itulah mereka segera menerima seruan Nabi atau nasihat orang-orang yang saleh.

Adapun orang-orang yang terkemuka dan orang-orang yang kaya, sangat berat untuk mengikuti orang lain, apalagi untuk menerima nasihat-nasihat yang menghalangi mereka mengikuti keinginan hawa nafsu, meskipun bertentangan dengan hati nurani mereka sendiri. Demikianlah tingkah laku orang-orang yang mempunyai kedudukan karena pangkatnya atau karena kekayaannya, sebagaimana diutarakan dalam firman Allah yaitu:

وَجَحَدُوْا بِهَا وَاسْتَيْقَنَت ْهَآ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّاۗ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِيْن َ ࣖ ١٤

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (an-Naml/27: 14).

Orang-orang yang lemah dari kaum Ṣamūd yang beriman itu tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, tetapi dengan bijaksana menjawab bahwa mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Saleh, karena petunjuk-petunjuk itu benar dan datangnya dari Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fażarūhā فَذَرُوْهَا(al-A rāf/7: 73)

Kata żar merupakan fi’il amar dari fi’il māḍī ważira-yażaru yang artinya tinggalkanlah atau biarkanlah. Yang dipergunakan dari kalimat ini hanya fi’il muḍāri’ dan fi’il amarnya saja. Arti dari akar kata ini adalah meninggalkan sesuatu dan melemparkannya begitu saja dengan tidak mempedulikannya.

2. Bawwa’akum بَوَّاَكُمْ (al-A‘rāf/7: 74)

Artinya menempatkan kamu. Akar katanya adalah (ب- و- ء) yang berarti kembali dengan membawa kebaikan atau keburukan. Kata bā’a ( باء ) dalam Al-Qur’an selalu berkonotasi buruk. (lih. Āli ‘Imrān/3: 162, al-Baqarah/2: 61, al-Mā’idah/5: 29). Sedangkan kata bawwa’a (بوأ ) sebagaimana pada ayat ini berarti menjadikan tempat tinggal mereka sebagai tempat kembali yang layak untuk istirahat. (Yūnus/10: 93, al-Ḥajj/22: 26).

3. ‘Aqaru an-Nāqah wa ‘ataw عَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا(al-A‘r f/7: 77)

Kata ‘aqara pada mulanya berarti pokok sesuatu. Bagian tengah dari rumah yang merupakan bagian terindah darinya disebut ‘uqur. Wanita mandul disebut ‘aqīr karena dia terkena masalah dengan asal keberadaannya (aṣl wujūdihā) seakan-akan wanita itu ditelikung atau diikat sehingga tidak berdaya atau dia menelikung sperma laki-laki. Ibnu Faris mengembalikan arti ‘aqara kepada arti melukai (jarḥ) atau membikin sesuatu tidak berdaya. Kata ‘aqara dinisbatkan khusus untuk onta. Onta yang mau disembelih terlebih dahulu dipukul kaki-kakinya yang menjadi pokok kehidupannya, setelah roboh dan tidak berdaya baru disembelih.

Kata ‘ataw berarti melampaui batas dalam kebatilan, berlaku angkuh dan sombong terhadap kebenaran. Akar katanya (ع- ت- و; huruf ilat) berarti sombong.

4. Jāṡimīn جَاثِمِيْنَ(al-A rāf/7: 78)

Artinya bergelimpangan. Kata juṡum bagi burung adalah keadaan ketika dia mendekam mau tidur di malam hari. Juga untuk onta yang menderum di tempatnya. Bagi manusia adalah keadaan dimana seseorang duduk malas. Arti dari semua itu ialah keberadaan tak bergerak sesuai dengan keadaan masing-masing ketika datangnya siksa.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto