Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 76 - Surat Al-A‘rāf (Tempat Tertinggi)
الاعراف
Ayat 76 / 206 •  Surat 7 / 114 •  Halaman 160 •  Quarter Hizb 16.75 •  Juz 8 •  Manzil 2 • Makkiyah

قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا بِالَّذِيْٓ اٰمَنْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ

Qālal-lażīnastakbarū innā bil-lażī āmantum bihī kāfirūn(a).

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkari apa yang kamu imani.”

Makna Surat Al-A‘raf Ayat 76
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Menanggapi perkataan orang-orang yang beriman, orang-orang yang menyombongkan diri dari kaum Nabi Saleh berkata masih de-ngan nada ejekan dan penolakan, “Sesungguhnya kami mengingkari dan tidak mempercayai sama sekali apa yang kamu, wahai orang-orang yang lemah, percayai.” Mereka menyatakan pengingkaran terhadap apa yang diimani kaum yang lemah itu dan menghindari untuk menyatakan ingkar kepada apa yang dibawa Nabi Saleh, karena khawatir adanya kesan seolah-seolah mereka mengakui kerasulan Nabi Saleh.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah golongan lemah yang beriman itu menjawab dengan jawaban yang bijaksana bahwa mereka beriman kepada Allah, dan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh, maka ayat ini menerangkan ucapan pemuka-pemuka kaum Ṣamūd yang sombong sebagai jawaban kembali terhadap ucapan orang-orang yang lemah ini. Mereka mengatakan bahwa mereka mengingkari apa-apa yang diimani oleh orang yang lemah itu. Mereka menghindari untuk mengatakan ingkar kepada apa yang dibawa oleh Nabi Saleh, karena khawatir terhadap adanya kesan seolah-olah mereka mengakui atas kerasulan Saleh as.

Isi Kandungan Kosakata

1. Fażarūhā فَذَرُوْهَا(al-A rāf/7: 73)

Kata żar merupakan fi’il amar dari fi’il māḍī ważira-yażaru yang artinya tinggalkanlah atau biarkanlah. Yang dipergunakan dari kalimat ini hanya fi’il muḍāri’ dan fi’il amarnya saja. Arti dari akar kata ini adalah meninggalkan sesuatu dan melemparkannya begitu saja dengan tidak mempedulikannya.

2. Bawwa’akum بَوَّاَكُمْ (al-A‘rāf/7: 74)

Artinya menempatkan kamu. Akar katanya adalah (ب- و- ء) yang berarti kembali dengan membawa kebaikan atau keburukan. Kata bā’a ( باء ) dalam Al-Qur’an selalu berkonotasi buruk. (lih. Āli ‘Imrān/3: 162, al-Baqarah/2: 61, al-Mā’idah/5: 29). Sedangkan kata bawwa’a (بوأ ) sebagaimana pada ayat ini berarti menjadikan tempat tinggal mereka sebagai tempat kembali yang layak untuk istirahat. (Yūnus/10: 93, al-Ḥajj/22: 26).

3. ‘Aqaru an-Nāqah wa ‘ataw عَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا(al-A‘r f/7: 77)

Kata ‘aqara pada mulanya berarti pokok sesuatu. Bagian tengah dari rumah yang merupakan bagian terindah darinya disebut ‘uqur. Wanita mandul disebut ‘aqīr karena dia terkena masalah dengan asal keberadaannya (aṣl wujūdihā) seakan-akan wanita itu ditelikung atau diikat sehingga tidak berdaya atau dia menelikung sperma laki-laki. Ibnu Faris mengembalikan arti ‘aqara kepada arti melukai (jarḥ) atau membikin sesuatu tidak berdaya. Kata ‘aqara dinisbatkan khusus untuk onta. Onta yang mau disembelih terlebih dahulu dipukul kaki-kakinya yang menjadi pokok kehidupannya, setelah roboh dan tidak berdaya baru disembelih.

Kata ‘ataw berarti melampaui batas dalam kebatilan, berlaku angkuh dan sombong terhadap kebenaran. Akar katanya (ع- ت- و; huruf ilat) berarti sombong.

4. Jāṡimīn جَاثِمِيْنَ(al-A rāf/7: 78)

Artinya bergelimpangan. Kata juṡum bagi burung adalah keadaan ketika dia mendekam mau tidur di malam hari. Juga untuk onta yang menderum di tempatnya. Bagi manusia adalah keadaan dimana seseorang duduk malas. Arti dari semua itu ialah keberadaan tak bergerak sesuai dengan keadaan masing-masing ketika datangnya siksa.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto