قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ اٰبَاۤؤُنَاۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
Qālū aji'tanā lina‘budallāha waḥdahū wa nażara mā kāna ya‘budu ābā'unā, fa'tinā bimā ta‘idunā in kunta minaṣ ṣādiqīn(a).
Mereka berkata, “Apakah engkau (wahai Hud) datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka, datangkanlah kepada kami apa yang kamu janjikan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Sekalipun telah diingatkan dengan nikmat yang mereka peroleh, mayoritas kaum Nabi Hud tetap ingkar dan enggan mengikuti dakwahnya. Mereka berkata dengan angkuh serta tanpa dasar ilmu kecuali mengikuti tradisi nenek moyang mereka, “Apakah tujuan kedatanganmu kepada kami hanya untuk menyeru agar kami hanya menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain, tidak mengangkat perantara antara kami dan Dia, dan meninggalkan apa yang biasa dan terus-menerus disembah oleh nenek moyang kami? Padahal, kami telah mengikuti tradisi dan kebiasaan mereka sebelum kedatanganmu. Seruanmu ini jelas tidak bisa kami terima dan kami tidak akan menaatinya. Jika engkau mau mengancam kami karena tidak mengikuti ajakanmu, maka buktikanlah ancamanmu yang kamu katakan kepada kami, jika kamu benar dalam ucapanmu!”
Ternyata kaum Hud adalah kaum yang sangat keras kepala dan pembangkang. Mereka, masih juga menjawab dan mengejek seruan Nabi Hud itu seraya mengatakan, “Rupanya engkau datang kepada kami ini, hai Hud, agar kami menyembah Allah dengan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek-moyang kami. Tidakkah ini suatu yang menggelikan hati kami. Apakah engkau tidak mengetahui bahwa sembahan peninggalan orang-orang tua kita itu adalah mendekatkan kita kepada Tuhan sebagai perantara karena kita belum menjadi orang suci; tidakkah kita perlu kepada tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang tua kita itu, jika sekiranya engkau memang sebenarnya utusan Allah dan memang benar apa yang engkau sampaikan kepada kami, cobalah datangkan kepada kami azab yang engkau janjikan itu.”
1. Basṭah بَصْطَةً(al-A‘rāf /7: 69)
Kata yang terdiri dari (ب- ص- ط) mempunyai arti melebarnya sesuatu, lapang, baik hissi maupun maknawi. Yang hissi contohnya pada ayat ini yaitu kaum ‘Ad adalah kaum yang mempunyai perawakan tegar, besar dan kuat. Yang maknawi seperti ungkapan baṣṭ al-yad berarti pemurah, pemberi, seperti pada ayat 245 surah al-Baqarah, dan ayat 27 surah asy-Syūra. Bisa juga berarti menyerang dan memukul (ṣaulah, ḍarbah) seperti pada ayat 28/ al-Mā’idah.
2. Rijsun wa gaḍab رِجْسٌ وَغَضَبٌ(al-A‘rāf /7: 71)
Rijs pada awalnya untuk sesuatu yang buruk dan keji. Lalu dalam konteks ayat ini dipahami sebagai sangsi yang dijatuhkan oleh Allah karena keburukan hati kaum ‘Ad.
Gaḍab artinya murka. Akar kata yang terdiri dari (غ- ض- ب) menunjukkan arti kuat dan keras (quwwah wa syiddah). Allah murka berarti Allah melakukan tindakan keras dan tegas bagi mereka yang melakukan pembangkangan terhadapNya.
3. Qaṭa’nā dābirā قَطَعْنَا دَابِرَا (al-A‘rāf/7: 73)
Qaṭa’ā berarti memutus. Dābir berarti belakang. Maksudnya adalah Allah menghancurkan habis kaum ‘Ad sampai barisan yang ada di belakang pasukan mereka.
















































